Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Gubernur Jakarta Bukan Pendekar Si Pitung

Cerita si pitung tokoh legendaris anak betawi adalah seorang pendekar gagah berani dalam menghadapi ketidakadilan pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. dibalik beragam versi cerita, kisah legenda si pitung ini memang banyak menimbulkan pro dan kontra, namun pada dasarnya si pitung adalah cerminan pemberontakan sosial yang dilakukan oleh orang betawi terhadap penguasa pada saat itu yaitu belanda.

Nama si pitung memang begitu harum didengar dari generasi ke generasi masyarakat betawi, si pitung sudah menjadi simbol pembebasan sosial dari belenggu penjajah belanda. Sosok pitung dikenal sebagai pesilat tangguh yang sholeh dan rendah hati, dengan keahliaannya itu si pitung membela rakyat kecil yang tertindas oleh penjajahan belanda.

Legenda itu sudah lama berlalu, saat ini kampung betawi sudah menjadi Kota metropolitan dan Betawi tempo dulu itu kini sudah menjadi miniatur Indonesia, Beragam suku, agama dan lain sebagainya ada disini. Seandainya si pitung masih hidup tentu ia akan senang melihat betawi sudah berubah, kondisi masyarakatnya juga sudah bebas dari penindasan penguasa kolonial belanda namun si pitung juga pasti akan bersedih dan marah bila melihat Kota kelahirannya itu mendapat predikat sebagai propinsi terkorup se-indonesia.

Saat ini Jokowi-Ahok telah diberi kepercayaan untuk memimpin sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta periode 2012-2017 dan harus siap menangani problematika persoalan di Jakarta yang sedemikian kompleks, salah satunya adalah menangani tata kelola pemerintahan.

Karena tanpa Reformasi Birokrasi atau tata kelola pemerintahan yang baik tentunya akan sangat sulit bagi Jokowi-Ahok untuk melakukan perubahan disektor yang lain, karena erat kaitannya dengan sepak terjang pelayanan birokrasi pada masyarakat.

Jakarta dengan predikat sebagai propinsi terkorup se-indonesia tentu bukan pekerjaan mudah untuk membenahinya, tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi bicara tata kelola pemerintahan atau Reformasi Birokrasi di Jakarta tentu dibutuhkan nyali yang besar untuk membongkar oknum-oknum birokrat nakal penyebab terjadinya prestasi sebagai propinsi terkorup se-indonesia.

Bagi seorang Jokowi-Ahok yang bukan berasal dari birokrat tentu pernah punya pengalaman menangani birokrasi ketika duduk sebagai kepala daerah di kota solo dan di kabupaten Belitung timur. Mereka berdua cukup paham dengan dunia birokrat, yaitu sebuah komunitas yang memang sudah lama terbentuk.

Namun perlu menjadi catatan bagi seorang Jokowi-Ahok, bahwa komunitas birokrat Jakarta dengan komunitas Birokrat kota solo dan belitung timur tentu sangat berbeda. Komunitas birokrat Jakarta itu layaknya sebuah hutan, bagi seorang Jokowi-Ahok tentu akan mendapatkan kesulitan, karena tidak mengerti bahwa di hutan itu banyak jalan tikus dimana-mana.

Dampak dari ketidaktahuannya ini akan memudahkan bawahannya untuk melakukan aktifitas yang dia tidak mengerti dan membuka peluang oknum birokrat nakal ini untuk melakukan apa saja tanpa diketahui oleh atasannya.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh seorang Jokowi-Ahok ? kita harus menyadari bahwa seorang Gubernur dan Wakil Gubernur bukan seperti pendekar pitung yang gagah berani sendirian melakukan perlawanan dengan penjajah belanda. Sehingga tentunya dibutuhkan nyali yang lebih besar untuk membongkar oknum birokrat nakal penyebab terjadinya prestasi Jakarta sebagai propinsi terkorup se-indonesia.

Dengan nyali yang besar dan pengalaman pernah menangani birokrat, tentunya Gubernur dan Wakil Gubernur tidak lagi dipermainkan oleh Oknum-Oknum Birokrat yang tidak sejalan dengan Kebijakannya, Apalagi jadi pitung disarang Penyamun. Walaupun tidak semua Birokrat adalah Penyamun. masih banyak Birokrat-Birokrat yang bersih dan tentunya hanya Oknum-Oknum Birokrat Nakal saja yang menjadi Penyamun.

Istilah si pitung disarang Penyamun tinggal pilih saja, apakah Jokowi-Ahok mau jadi bagian dari penyamun atau perang melawan penyamun, Mana yang lebih kuat ? Karena perlu nyali besar untuk membongkar Oknum-Oknum Birokrat Nakal yang telah berubah menjadi Penyamun yang sudah Kronis. sehingga perbuatan Korupsi dan Penyalagunaan Wewenang maupun Gratifikasi yang dilakukan oleh Oknum-Oknum Birokrat Penyamun tersebut dapat dibenahi.

Berita Lainnya: