Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Fauzi Bowo Mendapat Raport Merah

Dalam kegiatan belajar diruang kelas tiba-tiba pak guru berkata pada muridnya, Jokowi coba sebutkan lima butir pancasila. Dengan lantang dan suara keras Jokowi menjawab, Pancasila, satu : Ketuhanan yang maha esa, dua : Kemanusian yang adil dan beradab, tiga : persatuan Indonesia, empat : kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, Lima : keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bagus kata pak guru, sambil menunjuk Marzuki dan berkata, coba Marzuki sebutkan salah satu bentuk pengamalan dari sila pertama pancasila ? Dengan suara lantang Marzuki menjawab, salah satu dari bentuk pengamalan sila pertama adalah kita harus berlaku diskriminatif antar umat beragama

Mendengar jawaban Marzuki, pak guru lalu berkata, Marzuki jawaban kamu itu salah, itu bukan pengamalan dari sila pertama, kemudian pak guru menjelaskan bahwa salah satu bentuk pengamalan sila pertama dari pancasila adalah kita tidak boleh memaksakan suatu agama dan kepercayaan pada orang lain dan kita harus saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Mendengar jawaban pak guru, Marzuki hanya memanggut-manggutkan kepala.

Tak lama kemudian pak guru kembali menunjuk Fauzi dan berkata, Fauzi coba kamu jelaskan salah satu bentuk pengamalan sila ketiga dari pancasila ? Dengan suara lantang Fauzi menjawab, salah satu bentuk pengamalan sila ketiga dari pancasila adalah kita harus mendukung untuk persatuan salah satu umat dan golongannya.

Mendengar jawaban Fauzi, kembali pak guru berkata, Fauzi jawaban kamu itu salah, itu bukan wujud dari pengamalan sila ketiga, kemudian pak guru menjelaskan bahwa salah satu bentuk pengamalan sila ketiga dari pancasila adalah kita harus Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan serta Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika, Mendengar jawaban pak guru, Fauzi hanya memanggut-manggutkan kepala.

Jawaban Marzuki dan Fauzi pada cerita diatas sudah tentu adalah jawaban yang salah, untungnya pak guru dengan bijaksana menjelaskan secara detail wujud dari pengamalan Pancasila, sehingga berharap dari Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila ini nantinya dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku kehidupan sehari-hari peserta didik sebagai individu, anggota masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun faktanya sudahkah Pendidikan Moral Pancasila tersebut di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh perilaku individu masyarakat Indonesia yang tidak memahami arti dari kehidupan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945

Sebagai contoh perilaku individu ini dapat kita lihat pada hiruk pikuknya pelaksanaan Pemilukada Jakarta yang saat ini memasuki putaran kedua. Terlihat suhu politik pesta demokrasi lima tahunan di Jakarta ini semakin memanas, beragam isu sara dan kepentingan golongan telah dimunculkan oleh perilaku individu yang tidak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.

Lebih parah lagi pelanggaran Pancasila ini justru dilakukan oleh perilaku individu yang berkeinginan untuk menjadi pemimpin masyarakat Jakarta. Perilaku yang bertentangan dengan Pancasila itu telah dilakukan oleh Fauzi Bowo selaku Gubernur Jakarta yang saat ini sedang mencalonkan kembali untuk periode kedua masa jabatannya sebagai Calon Gubernur Jakarta.

Perilaku itu tercermin pada pidato Fauzi Bowo saat menghadiri acara Halal bihalal yang dilakukan oleh salah satu Partai pendukungnya, di dalam pidatonya itu antara lain Fauzi Bowo mengatakan bahwa betapa pentingnya persatuan di antara umat Islam Jakarta dalam Pemilukada DKI Jakarta kali ini. Karena dengan persatuan umat Islam tersebut, maka dia pasti menang dalam Pemilukada DKI Jakarta 2012-2017.

“Bila umat Islam benar-benar bersatu di Jakarta, maka kemenangan kita bisa tercapai !” seru Fauzi Bowo. Pidato Fauzi Bowo ini juga sempat disiarkan oleh salah satu TV Swasta nasional dalam liputan beritanya pada hari yang sama, minggu 2 September 2012.

Pidato Fauzi Bowo ini jelas bernuansa SARA, karena telah membawa-bawa atau memanfaatkan agama untuk menarik dukungan terhadapnya, apa hubungannya antara persatuan umat Islam Jakarta dengan Pemilukada ?

Jakarta adalah miniatur Republik Indonesia, masyarakat Jakarta terdiri dari Beragam suku dan agama, sehingga pernyataan Fauzi Bowo yang lebih mengedepankan kepentingan pribadinya dengan memanfaatkan Agama untuk menarik dukungan terhadapnya. Pernyataan ini sudah tentu dapat menyinggung perasaan umat beragama lainnya.

Apakah kalau ada masyarakat muslim Jakarta yang tidak mendukung Fauzi Bowo, berarti tidak ada persatuan umat Islam ? Apakah masyarakat muslim bila tidak memilih Fauzi Bowo berarti tidak ada persatuan umat Islam ? Jelas pernyataan Fauzi Bowo yang berbau SARA ini sangat bertentangan dengan butir-butir Pancasila dan UUD 1945.

Begitu juga beberapa pernyataan Fauzi Bowo dalam setiap kegiatannya, misalkan pernyataan beliau ketika mengunjungi korban kebakaran di jakarta pusat “Seperti diberitakan saat mengunjungi warga Karet Tensin, Foke mengucapkan kalimat; "Sekarang lo nyolok (nyoblos) siapa ? kalau nyolok (nyoblos) Jokowi mah bangun di Solo aja sono," kata Foke yang terekam dalam tayangan video berdurasi satu menit 22 detik.

Pernyataan Fauzi Bowo itu adalah salah satu bentuk pemaksaan kepada orang lain serta melanggar kebebasan memilih yang diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Perilaku pemaksaan seseorang apalagi pada situasi orang tersebut sedang dilanda kesusahan, perilaku itu menunjukan sikap arogansi, kesombongan dan haus akan kekuasaan, itu wujud pemimpin yang putus asa, merasa takut tidak mendapatkan suara dari para pemilih. Pernyataan itu jelas sebagai salah satu bentuk pelanggaran dan bertentangan dengan butir-butir Pancasila dan UUD 1945.

Melihat banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh Fauzi Bowo yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, seyogjanya sikap Fauzi Bowo ini mendapat raport merah dalam wujud Pendidikan Moral Pancasila yang diajarkan ketika kita duduk dibangku sekolah.

Dulu era tahun 70 dan 80-an, jangan harap kita akan naik kelas bila mendapat angka merah pada mata pelajaran pendidikan moral pancasila, mungkinkah saat ini perilaku Fauzi Bowo tersebut sebagai cikal bakal tidak naik kelasnya beliau untuk tampil kedua kalinya sebagai Gubernur Jakarta ? Jakarta butuh perubahan, Jakarta tidak butuh pemimpin yang mendapat raport merah, bisakah rakyat Jakarta menjadi contoh tentang arti sebuah perubahan, bukan hanya untuk Jakarta tapi juga perubahan bagi Indonesia raya yang “BHINEKKA TUNGGAL IKA”.

Berita Lainnya :
Bukan Fitnah Zaman Foke Memang Menyedihkan