Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Bukan Fitnah Zamannya Foke Memang Menyedihkan

Seiring dengan perjalanan waktu, Kota metropolitan Jakarta tentunya banyak mengalami perubahan, dimulai dari zamannya Gubernur pertama Suwiryo yang memerintah tahun 1945 s/d 1947 dan Gubernur saat ini Fauzi Bowo atau akrab di panggil Foke yang telah mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur periode 2007 s/d 2012.

Dari pergantian Gubernur silih berganti tersebut, tentu ada pengalaman menarik yang bisa diambil. apalagi ketika anak-anakku sudah menginjak usia dewasa, mereka semakin cerdas ingin tahu tentang pengalaman orangtuanya ketika hidup pada beberapa zaman Gubernur Jakarta yang telah di laluinya.

Ayah, diantara semua zaman itu, mana zaman Gubernur yang paling enak kata anakku yang paling bontot ? Mendapat pertanyaan seperti itu, aku sempat kaget dan langsung menjawab.

Anakku, hidup paling senang itu waktu zamannya Gubernur Ali Sadikin tahun 1966 s/d 1977, karena waktu zamannya Ali Sadikin, ayah kamu ini masih kecil dan selalu di gendong-gendong sama kakekmu, tiap hari ayahmu selalu bermain-main, masih banyak tanah lapang di jakarta, ayah suka main petak umpet, main galasin dan permainan tradisional lainnya yang sekarang mulai pudar dan tenggelam oleh game-game import. Kadang bila hari libur, ayah pergi kelaut di pantai bintang mas ancol atau pergi ke monas yang belum dipagar tinggi-tinggi dan kita bisa bebas bermain disana. Betapa bahagianya ayah waktu itu, masa kecil yang paling indah.

Begitu juga waktu zamannya Gubernur Cokropranolo tahun 1977 s/d 1982, sempat juga ayah bertemu dengan bapak Gubernur Cokropranolo ketika ada kegiatan yang melibatkan anak-anak Sekolah Dasar se-Jakarta Utara, sempat juga ayah bersalaman dengan beliau, waktu itu ayah kamu memang masih duduk di sekolah dasar. Tentunya itu pun adalah masa-masa yang paling indah buat ayah.

Selanjutnya adalah zamannya Gubernur Soeprapto tahun 1982 s/d 1987, wah zamannya Gubernur Soeprapto, ayah kamu tumbuh sebagai remaja dan menikmati indahnya masa remaja, baik di SMP maupun di SMA. Tahukah tidak anakku, saat itu adalah Gita Cinta waktu SMA buat ayah dan saat itulah ayah mengenal apa artinya sebuah cinta, walaupun hanya sekedar cinta monyet. Pengalaman menyenangkan saat remaja adalah ketika ayah ingin menulis surat tapi tidak bisa merangkai kata-kata indah, akhirnya terpaksa ayah beli buku surat cinta yang ayah beli dibekas terminal lapangan banteng samping gereja Kathedral.

Dilanjutkan dengan zamannya Gubernur Wiyogo Atmodarmonto tahun 1987 s/d 1992. Kalau zamannya Gubernur yang satu ini, ayahmu sudah tidak tinggal di jakarta, selepas tamat SMA, ayah pergi keliling Indonesia, Mulai dari Bali, Lombok, Sumbawa, Timor Timur, Sulawesi, Sumatera bahkan ayahmu sempat tinggal cukup lama di Malaysia dan Singapura untuk berniaga. Benar-benar zaman yang penuh dengan pengalaman yang menarik.

Nah selanjutnya adalah zamannya Gubernur Soerjadi Soedirdja tahun 1992 s/d 1997. Zamannya Gubernur yang satu ini, ayah bertemu dengan ibumu, tak lama kemudian ayah menikahi ibumu, zaman ini memang zaman penuh dengan bulan madu yang indah.

Tak lama kemudian, ketika zamannya Gubernur Soetiyoso tahun 1997 s/d 2007, ayah dan ibumu lagi senang-senangnya karena mempunyai bocah-bocah cilik yang lucu-lucu yaitu kamu dan kakak-kakakmu.

Tapi saat ini ketika zamannya Gubernur Fauzi Bowo atau Foke tahun 2007 s/d 2012, kesusahan selalu menerpa hidup ayah ? bayangin anakku, ayah harus bekerja banting tulang untuk menghidupi keluarga dengan istri dan ketiga anak-anakku yang sudah pada besar dan sudah sekolah semua, di tambah biaya sekolah yang sangat mahal, zamannya Gubernur Foke, hidup susahnya minta ampun ? udah gitu jalanan semakin macet, kalau hujan suka banjir, pokoknya zaman Gubernur Foke memang paling menyedihkan buat ayah.

Begitulah anakku, itulah kehidupan dari zaman ke zaman yang pernah ayah alami, entah saat ini, ketika Gubernur Jakarta sudah dipimpin oleh Jokowi, apakah hidup ayah semakin susah apa tidak ?

Berita Lainnya :
Antara Foke, Rhoma dan Tante Alexa
Foke Harus Segera Berobat ke Dokter
Rhoma Irama Diduga Nyoblos Dua Kali
Komitmen dan Kemauan Gubernur Jakarta
Satu Korban, Satu Suapan dan Satu Suara