Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Putaran Kedua Kelas Menengah Harus Nyoblos

Putaran kedua perhelatan akbar pemilukada DKI Jakarta sebentar lagi akan dimulai, dua pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta, Jokowi-Ahok versus Foke-Nara saat ini sedang sibuk mempersiapkan diri lebih optimal lagi agar mendapat dukungan dari masyarakat Jakarta, Pemilih Jakarta memang jauh berbeda di banding dengan pemilih dari daerah lain, hal ini terlihat pada putaran pertama pemilih Jakarta mengerucut kepada pasangan Jokowi-Ahok sebagai tokoh sederhana kelas lokal.

Fakta ini menunjukkan bahwa konstituen Jakarta jauh lebih fokus dan tertarik kepada figur yang sederhana, karena dengan kesederhanaanya memberi harapan masyarakat terhadap pengabdian dan kejujuran, Itulah kekuatan pasangan Jokowi-Ahok

Kebosanan rakyat terhadap pemimpin yang terlalu besar dan sok kuasa tapi mereka nilai tidak ada hasilnya telah membuahkan hasil seperti kasus pemilihan Gubernur Jawa Barat pada tahun 2008, mungkinkah nasib Foke akan sama dengan Danny Setiawan mantan Gubernur Jawa barat yang akhirnya pernah jadi pesakitan dibalik indahnya jeruji besi ? apalagi Foke juga pernah tersentuh kasus di KPK dan ironisnya kasus ini justru dilaporkan oleh wakilnya sendiri, kasus ini tentunya membuktikan bahwa telah terjadi sesuatu yang tetap menjadi tanda tanya besar dimasyarakat, walau kemudian kasus ini dapat diredam tetapi peristiwa ini sangat terekam sekali oleh penduduk Jakarta.

Diam bukanlah jawaban untuk membuat perubahan, Kemenangan bukan jaminan dapat merubah keadaan. Tetapi hanya keyakinan, ketulusan dan kekuatan hati yang dapat menghasilkan "KEMENANGAN untuk PERUBAHAN" kata-kata ini tentu sangat berarti bila kita semua punya rasa kepedulian agar bisa tercapai kemenangan untuk perubahan, semboyan ini layak diberikan pada kalangan menengah yang selama ini lebih banyak diam tanpa mau peduli terhadap situasi dan kondisi yang sebenarnya dirasakan juga oleh mereka.

Wah….Jakarta hujan, sebentar lagi pasti banjir 
Wah…..Jakarta kok macet terus ya
dan seterusnya

Kalimat diatas lebih sering diucapkan oleh kalangan menengah, mereka hanya bisa mengeluh menyalahkan keadaan, tapi ketika diminta untuk bertindak malah diam saja. Mereka mengeluh macet, banjir, rawan kejahatan, dan lain-lain tapi apa sebenarnya tindakan nyata mereka untuk Jakarta ? Mereka masih buang sampah sembarangan, mereka masih mengandalkan kendaraan pribadi tiap bepergian.

Maka melalui Pemilukada Jakarta 2012 sebenarnya masyarakat kalangan menengah Jakarta mampu melakukan sesuatu untuk diri mereka dan masyarakat banyak. Mereka tinggal datang ke tempat pemungutan suara (TPS) kemudian mencoblos pasangan gubernur yang bisa diharapkan untuk memimpin Jakarta. Karena Jakarta butuh perubahan.

Apakah harapan itu tinggal harapan, walaupun faktanya pada putaran pertama pemilukada, banyak teman-teman saya yang langsung merencanakan liburan dan kegiatan lain begitu mendengar tanggal 11 Juli cuti bersama, namun tidak satu pun yang berniat mengikuti Pemilukada, pemikiran sederhana namun terkesan egois muncul dari jawaban mereka, “Ngapain saya ikutan nyoblos ? saya gak ngerti mau milih siapa, yang penting bukan Foke deh ?

Alasan sederhana namun terkesan egois ini begitu mendominasi pemikiran kalangan menengah Jakarta, Menurut saya alasan ‘gak tahu mau milih siapa, sangat tidak masuk akal padahal kalangan menengah ini termasuk sosok terdidik, mapan secara ekonomi sehingga setidaknya bisa lebih mudah buat mereka untuk bisa mencari akses informasi baik melalui pemberitaan media massa maupun mencari informasi melalui internet tentang sosok kandidat Gubernur Jakarta.

Begitu juga terkait pemikiran dari kalangan menengah bahwa Foke tidak bakalan menang, menurut saya pemikiran ini juga terkesan egois yang berarti mereka berpikir bahwa Foke gak bakalan menang hanya dengan mengharapkan orang-orang akan memilih kandidat lain. Oleh karena itu jika masyarakat menengah tidak ikut memilih, Gubernur yang rutin mereka sumpahi baik di facebook / twitter / BBM setiap hari justru akan menjabat kembali, sungguh sangat Ironis ? karena kelas menengah inilah yang seharusnya peduli dengan masa depan Jakarta. Sebab mereka punya kemampuan baik pemikiran terdidik serta sumber daya informasi untuk menimbang dan memutuskan kandidat mana yang terbaik ? Mudah-mudahan putaran kedua ini mereka tidak kembali merencanakan untuk liburan dan pergi dengan kegiatan lain.

Semuanya kembali pada hak teman-teman untuk memutuskan, apakah ingin tetap Jakarta seperti ini atau ingin ada perubahan yang sangat berarti bagi Ibukota Republik Indonesia.

Berita Lainnya :