Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Polling Foke-Nara di Vivanews Tidak Wajar

Hebat banget euh reputasi Foke di media online vivanews, berdasarkan polling SMS yang diselenggarakan oleh vivanews, pada saat tulisan ini dibuat, hasil polling pasangan calon Gubernur Foke-Nara meraih dukungan suara 78% sedangan pasangan Jokowi-Ahok 22%. Wajarkah polling SMS yang dilakukan vivanews terkait pemilukada Jakarta menjelang putaran kedua ini.

Apakah polling ini bagian dari strategi politik pencitraan dari salah satu kandidat calon gubernur DKI Jakarta, kalau kita melihat siapa pemilik vivanews tentu kita tidak akan heran melihat hasil polling tersebut. Apakah Hasil Polling SMS Calon Gubernur di Vivanews murni tanpa adanya dugaan unsur rekayasa tertentu atau bagian dari dugaan strategi politik pihak tertentu ?

Rasanya hasil polling tersebut sangat tidak wajar dan penuh dengan adanya dugaan rekayasa pencitraan sesat dimasyarakat, bagaimana mungkin seorang foke yang selama ini dinilai oleh kelompok aktifis dunia maya sebagai orang ambisius tapi tidak bisa kerja tiba-tiba mendapat ranking suara dukungan yang sangat signifikan. Lihat saja di media online kompasiana, facebook atau twitter, sangat sedikit orang yang memberi nilai plus untuk seorang foke, tapi khusus dimedia online vivanews, seorang foke mempunyai reputasi tersendiri, nilai keunggulannya pun sangat fantastis dan tidak sesuai dengan realita yang ada berdasarkan hasil putaran pertama pemilukada DKI Jakarta, sangat ironis.

Memasuki putaran kedua Pemilukada DKI Jakarta, tentunya masing-masing kandidat calon Gubernur Jakarta, saat ini sedang mempersiapkan beberapa strategi politik dalam rangka menarik kembali simpati masyarakat terhadap program-program yang ingin dijualnya ketika terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, Apakah polling ini bagian dari strategi politik yang dilakukan oleh jaringan dilingkaran Foke-Nara ? mengingat siapapun aktifis dunia maya pasti tahu siapa pemilik dari vivanews yang notabene pemiliknya adalah salah satu bagian dari pendukung Foke-Nara.

Bisa saja ini bagian dari strategi, mengingat figur Calon Gubernur yang telah diusung oleh Partai Politik itu ibarat seperti Permen, Sabun, Pasta gigi sama-sama butuh citra, maka dibutuhkan strategi khusus, targetnya orang harus di rangsang supaya tertarik dan kemudian beramai-ramai mendukungnya. Lebih-lebih bila itu menyangkut figur Calon Gubernur yang sudah buruk citranya.

Memang kalau kita melihat salah satu strategi politik adalah melalui strategi Political Marketing atau pemasaran politik yaitu dengan cara polling pendapat, memang bila kita melihat dari perspektif political marketing, penyiaran hasil jajak pendapat yang terus menerus di lakukan dan di publikasikan kemasyarakat ternyata mempunyai dampak nyata yang signifikan, apalagi bila strategi melalui polling pendapat ini di lakukan melalui sebuah rekayasa secara sistematis sehingga kemungkinan besar Calon Gubernur yang sudah buruk citranya di masa lalu mendadak bisa menjadi calon gubernur yang mendapat simpati dari masyarakat.

Berbagai Polling di satu sisi memang sering kali menghasilkan temuan-temuan yang menarik dan bermanfaat tetapi di sisi lain kita juga sering menemukan polling-polling yang hasilnya membingungkan dan bahkan dapat menimbulkan isu yang menyesatkan kita, contoh kasus hasil polling yang membingungkan karena bertolak belakang dengan kenyataan ketika pernyataan Ditjen Otda Kemendagri yang mengatakan pihaknya mempunyai data survey 71% masyarakat Yogjakarta menginginkan Gubernur-Wagub DIY di pilih langsung. faktanya masyarakat Yogja masih tetap berkeinginan penetapan Gubernur-Wagub Yogja melekat pada Sultan. sehingga hasil survey yang di lakukan dan katanya datanya ada pada Ditjen Otda Kemendagri menjadi bias tak berguna.

Begitu juga hasil Polling yang pernah dilakukan oleh Vivanews pada saat putaran pertama pemilukada DKI Jakarta, pasangan Foke-Nara begitu unggul dengan prosentase  suara yang sangat signifikan namun sungguh diluar dugaan hasil polling pada putaran pertama tersebut ternyata tidak sesuai dengan realita yang ada, faktanya justru pasangan Jokowi-Ahok yang perolehan suara hasil Pollingnya sangat rendah namun realita yang ada justru pasangan calon Gubernur Jakarta ini ternyata yang memperoleh dukungan riil dari masyarakat…..sungguh ironis