Iklan Layanan Padepokan Tumaritis

Iklan Layanan Padepokan Tumaritis

Dibalik Pertemuan Menegangkan Habibie dan Prabowo

Membaca buku “DETIK-DETIK YANG MENENTUKAN” memang sangat menarik serta mengusik rasa penasaran selama ini, benarkan disaat detik-detik paling menegangkan ketika tampilnya BJ.Habibie menggantikan Sang Diktator rezim Orde Baru yang sudah berkuasa tanpa batas selama 32 tahun lamanya.

Buku ini benar-benar sangat fenomenal apalagi buku ini ditulis secara langsung oleh pelakunya yaitu Habibie mantan Presiden Indonesia ke III. Buku ini di tulis berdasarkan pengalamannya di saat masa awal reformasi, melalui buku tersebut akhirnya terjawab sudah teka-teki yang selama ini masih terselubung dibalik pertemuan antara Prabowo Subianto dengan Presiden BJ Habibie. Bahkan, sempat disebut-sebut saat itu akan terjadi KUDETA segala.

Dalam buku yang telah dipersiapkan Habibie selama setahun itu, memang terasa sekali suasana ketegangan yang melingkupi pertemuan Habibie-Prabowo. Bahkan, dalam buku setebal 549 halaman, suasana mencekam itu gamblang sekali dipaparkan oleh Habibie yang cukup banyak memakan halaman. Habibie memang mengaku bahwa niat Prabowo untuk melindunginya adalah tulus, jujur, dan tepat. Namun, kebimbangan untuk menemui salah seorang putra begawan ekonomi, Soemitro Djojohadikusumo, saat itu jelas sekali menyergap perasaannya : Apakah perlu saya bertemu ? Apa gunanya bertemu ? Letjen Prabowo adalah menantu Presiden Soeharto. Pak Harto baru 24 jam meletakkan jabatannya. (hal 95)

Kegamangan Habibie berlanjut hingga menjelang acara pertemuan. Menurut dia, siapa saja yang menghadap presiden tidak diperkenankan membawa senjata : Tentunya itu berlaku pula untuk Panglima Kostrad. Namun, bagaimana halnya dengan menantu Pak Harto ? Apakah Prabowo akan juga diperiksa ? Apakah pengawal itu berani ? (hal 95).

Dalam buku tersebut Habibie menulis, sebenarnya ia sangat dekat dengan Prabowo (alinea keempat, hal 101). Bahkan, Prabowo mengidolakan dirinya. Ia pun mengaku merasa jengah dengan desakan Prabowo yang ingin eksklusif menemuinya. Sebab, sebelumnya Habibie sudah sepakat dengan Menhankam/Pangab Wiranto bahwa setiap ada anggota ABRI yang ingin menemuinya, harus seizin atau sepengetahuan Pangab. Dan, setelah Prabowo masuk ke ruangannya dan melihatnya tanpa membawa senjata, Habibie pun merasa puas. ''Hal ini berarti pemberian "eksklusivitas" kepada Prabowo tidak dilaksanakan lagi,'' tulis Habibie di halaman 101.

Dialog antara keduanya pun segera terjadi dan dilakukan dalam bahasa Inggris, hal (101-102) : “Ini penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto. Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad.”

Habibie menjawab, “Anda tidak dipecat, tapi jabatan anda diganti.”

Prabowo balik bertanya, ''Mengapa ?” Habibie kemudian menjelaskan bahwa ia menerima laporan dari Pangab bahwa ada gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan Istana Negara.

“Saya bermaksud mengamankan Presiden,” kata Prabowo.

“Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab dan bukan tugas anda,” jawab Habibie.

“Presiden apa anda ? Anda naif ? jawab Prabowo dengan nada marah.

“Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan,” jawab Habibie.

“Atas nama ayah saya, Prof Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad,” kata Prabowo.

Habibie menjawab dengan nada tegas, “Tidak ! Sampai matahari terbenam anda sudah harus menyerahkan semua pasukan kepada Pangkostrad yang baru. Saya bersedia mengangkat anda menjadi duta besar di mana saja !”

“Yang saya kehendaki adalah pasukan saya !” jawab Prabowo.

“Ini tidak mungkin, Prabowo,” tegas Habibie.

Ketika perdebatan masih berlangsung seru, Habibie kemudian menuturkan bahwa Sintong masuk sembari menyatakan kepada Prabowo bahwa waktu pertemuan sudah habis.

“Jenderal, Bapak Presiden tidak punya waktu banyak dan harap segera meninggalkan ruangan.”

Demikian sepenggal cerita yang sangat menarik dibalik buku "DETIK-DETIK YANG MENENTUKAN”, setelah membaca buku tersebut terlihat banyak juga yang menarik dari kepribadian penulisnya, sehingga saya dapat menyimpulkan bahwa "Buku dan penulisnya menyatu dalam kata "DEMOKRASI". Soal isu pengepungan Istana Negara yang dilakukan pasukan Kostrad akan terjawab bila anda sudah membaca buku ini.

Berita Lainnya : 
Mantan Presiden PKS Diduga Terlibat PKI
Orde Baru Berdiri Di atas Tumpukan Tengkorak
Saya Tetap Tidak Suka Dengan Soeharto
Tes DNA Makam Menteri Orba Akan Dibongkar
Bangkitlah Menuju Indonesia Yang Berdaulat