Kamu memang sudah tidak cantik lagi, tapi aku tetap sayang kamu INDONESIAKU

Bakal Calon Walikota Depok 2016-2021

Bakal Calon Walikota Depok 2016-2021

Skenario Jahat Kembali ke Masa lalu

Sejarah membuktikan dimana pun para penguasa tetap tidak akan rela melepaskan kekuasaannya dengan begitu mudah, mereka tidak ingin ibarat jatuh tertimpa tangga, mereka berharap ketika mereka jatuh, lalu bangkit untuk meraih kekuasaan kembali. Apa yang kita lihat sekarang, kegagalan reformasi Indonesia yang sudah empat belas tahun lamanya, kenyataannya baru sedikit perbaikan di negara ini.

Perubahan rezim korup Orde Baru ke Orde Reformasi ternyata hanya perubahan label saja, orang-orang lama dari pusat lingkaran kekuasan rezim orde baru cenderung masih mendominasi diberbagai bidang baik partai politik dan para birokrasinya, malah mereka terlihat lebih solid untuk bisa tampil kembali merebut kekuasaan yang telah hilang.

Rencana besar mereka bukan datang tiba-tiba tapi bagian dari skenario awal yang diduga sudah mereka rancang sebelumnya. Ketika mereka sadar bahwa sebenarnya pondasi ekonomi Indonesia memang tidak kuat dan suatu saat akan hancur, namun tidak ingin kehancuran tersebut membawa malapetaka yang lebih besar bagi mereka, maka diduga dirancanglah skenario jahat tersebut yang dimulai kira-kira awal tahun 90 an.

Karena pada awal tahun 90 an. Ada dua kekuatan besar yang dapat mengganggu stabiltas politik yang sudah terkondisikan sedemikian rupa. Kedua kekuatan tersebut adalah kekuatan merah dibawah bayangan Megawati Soekarnoputri yang terpilih sebagai Ketua Umum PDI hasil Kongres di Surabaya tahun 1993 namun pemerintah tidak mengakui hasil Kongres tersebut, Mega pun akhirnya didongkel melalui Kongres PDI di Medan tahun 1996 yang memilih Suryadi sebagai ketua Umum PDI yang direstui oleh Pemerintah. akhir dari drama ini adalah terjadinya peristiwa 27 Juli 1996 yang berbuntut pada kerusuhan massal di Jakarta atau lebih dikenal dengan peristiwa 27 Juli. Selanjutnya adalah kekuatan hijau dibawah bayangan Gus Dur yang sempat diobrak-abrik oleh Abu Hasan pada perebutan Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU 1994 di cipasung, diduga Abu Hasan ini diskenariokan juga oleh kekuatan luar untuk menjinakkan NU.

Kekhawatiran mereka pada kedua kekuatan ini bukan tanpa alasan, mereka dianggap sebagai simbol perlawanan rakyat, hal ini lah yang membuat Rezim Orde Baru sangat Ketakutan sehingga berbagai cara mereka lakukan untuk menghantam kedua kekuatan itu. namun ternyata fakta bicara lain, semakin dihantam dua kekuatan tersebut semakin besar pula dukungan dan simpati masyarakat padanya.

Akhirnya upaya yang dilakukan adalah menciptakan figur-figur baru atau calon tokoh-tokoh Kloningan baru yang sengaja dibiarkan bersikap kritis kepada rezim dengan harapan sikap kritis dan perlawanan Kloningan ini mendapat simpati masyarakat, sehingga simpati dan dukungan masyarakat tidak hanya terbagi pada kedua kekuatan Merah dan Hijau saja.

Rencana berhasil, banyak Kloningan-Kloningan baru muncul bak pahlawan kesiangan, terbukti ketika sistem yang memang sengaja diciptakan, muncullah berpuluh-puluh partai baru sebagai calon peserta pemilu dan Kloningan ciptaannya berhasil menduduki posisi sebagai Ketua Umum dari partai-partai tersebut.

Alhasil terbukti pemilu pertama di era reformasi tahun 1999, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang memperoleh dukungan masyarakat walaupun tidak mayoritas ternyata tidak bisa berbuat apa-apa dalam proses sidang umum pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Partai Pemenang hanya mampu menduduki Megawati sebagai Wakil Presiden. walaupun tampilnya Gus Dur sebagai Presiden diluar skenario namun ini terjadi hanya karena keterpaksaan saja. tampilnya figur Gus Dur hanya untuk meredam kemarahan rakyat, terutama kemarahan masyarakat pendukung fanatik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. mereka khawatir bila dipaksakan tentu akan menimbulkan gejolak yang dapat merugikan kepentingan mereka sendiri.

Karena Gus dur diluar skenario yang mereka inginkan, maka ketika Gus Dur tampil sebagai Presiden Republik Indonesia yang keempat, kendali dan kontrol memang tidak bisa mereka lakukan, apalagi keberanian Gus Dur yang membuat kebijakan-kebijakan kontroversial sehingga membuat mereka yang merancang skenario ini bak kebakaran jenggot, maka diatur lah skenario baru untuk melengserkan Presiden Gus Dur dan itu bukan langkah yang sulit apalagi mereka masih punya kekuatan, Partai Politik, Birokrasi, Militer, Media Massa dan Kekuatan Ekonomi masih mereka kuasai sehingga terbukti masa Pemerintahan Gus Dur pun tak lama berkibar.

Sayangnya Megawati terpancing dengan skenario ini, kalau saja Megawati mampu menahan diri untuk tidak ikut-ikutan, tentu kondisi akan berbicara lain. Terbukti nasib Megawati pun hanya mampu bertahan satu periode saja. para Kloningan itu mampu secara sistematis melakukan manufer demi manufer untuk menunjukan sebagai pihak yang ingin melakukan perubahan, tapi faktanya jauh panggang dari api, tabiat mental orde barunya tetap tak bisa dibohongin.

Kembali kemasa lalu itu lah harapannya, akhir dari skenario sudah didepan mata apalagi sekarang mereka telah melihat fenomena baru di masyarakat yang mulai terbius dan tergoda pada romantika indahnya kehidupan sosial-politik dan ekonomi semasa rezim Orba berkuasa, Fenomena seperti itu akibat dari pemikiran masyarakat yang tidak mampu mencari sebab akibat dari kekisruhan sosial-politik, rakyat tidak paham carut marut seperti ini memang bagian dari skenario jahat yang memang sudah mereka rancang jauh sebelumnya, Padahal sejarah membuktikan bahwa segala keindahan semasa Orba tidaklah fundamental, namun bersipat artificial serta semu belaka. Melihat kondisi ini maka peluang kembali kemasa lalu terbuka dengan lebar.

Mungkinkah kita kembali kemasa lalu, padahal masa lalu itulah yang membuat kondisi bangsa ini hancur lebur, belum lagi banyaknya kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang pernah dilakukan oleh Rezim Orde Baru yang sampai saat ini belum diusut secara tuntas, mulai dari " Peristiwa GESTOK 1965, Pembunuhan Misterius (Petrus), Kasus Tanah Kedung Ombo, Kasus pembunuhan Aktifis Buruh Marsinah, Kasus Waduk Nipah, Kerusuhan Situbondo, Peristiwa Tanjung Priok, Peristiwa 27 juli 1996, Penculikan para Aktifis dan terakhir kasus pembunuhan terhadap beberapa mahasiswa Trisakti di Jakarta atau yang lebih dikenal dengan Tragedi Semanggi I " juga kasus-kasus lainnya yang belum terselesaikan dengan baik.

Peristiwa pelanggaran berat Hak Asasi Manusia di era Orde Baru sepertinya telah dilupakan atau masyarakat sendiri yang tidak mau tahu dan ini pasti ada sebabnya, tak lain dan tak bukan semua ini adalah bagian dari Skenario yang hampir berhasil mereka lakukan, mampukah kita keluar dari permainan kotor dan skenario jahat orang-orang bermental orba ini ? kalau melihat sipat masyarakat kita yang mudah menjadi pelupa serta ketiadaan kemampuan dalam mengidentifikasi persoalan yang sebenarnya terjadi, maka sampai kapan pun republik ini tetap tidak akan berubah. malah dikhawatirkan kedepannya apabila skenario untuk merebut kekuasaan ini berhasil mereka rebut kembali, jangan harap kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang pernah mereka lakukan itu bisa terungkap kembali malah diduga justru akan muncul kembali pelanggaran-pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam berbagai bentuk.

Berita Lainnya :
Mantan Presiden PKS Diduga Terlibat PKI
Kisah Tragis Putri Terkaya di Indonesia
Presiden SBY Kalah Telak Enam Kosong
Kisah Dara Cantik Selebriti Kiri Indonesia
Lanjutkan Utang Kita Menjadi 1950 Trliun
Bangkitlah Menuju Indonesia Yang Berdaulat
Indonesia Butuh Pemimpin Berwatak Mandiri
* Partai Penguasa Sedang Panik Stress dan Depresi
----------------------------------------------------------------------------------------------------- Terima kasih atas kunjungannya. Bila ada pertanyaan klik : DI SINI - 085710090000
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
AGUS SUTONDO MEDIA CENTER
MAS TEMPLATE