Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Sama Kader Partai Saja Menyuap Apalagi Sama Rakyat

Bola suap semakin menggelinding dengan cepat, setelah pengakuan blak-blakan dari Diana Malingka ketua DPC Minahasa Tenggara yang mengungkap soal bagi-bagi uang dari tim sukses anas urbaningrum di Kongres Partai Demokrat 2010 di bandung, dalam pengakuannya Diana telah menerima uang dari tim sukses Anas Urbaningrum sebesar US$7.000 dan Rp.30 juta. Selain uang, dia juga di beri BlackBerry.

Pengakuan serupa juga datang dari Ismiyati Saidi mantan ketua DPC Partai Demokrat dari Kabupaten Kabupaten Bualemo, Gorontalo, dalam pengakuannya Ismiyati mengaku menerima uang dari tim sukses Anas Urbaningrum tiga kali pada saat Kongres di Bandung. “Pertama Rp.15 juta, kedua US$2.000, dan terakhir menerima US$5.000,” kata Ismiyati,

Sama seperti pengakuan Diana Maringka saat menerima uang, Ismiyati mengaku juga tidak tahu jika uang itu berasal hasil suap wisma atlet SEA Games yang sudah menyeret dua petinggi Partai Demokrat, yaitu Muhammad Nazaruddin dan Angelina Sondakh.Malah ismiyati mengatakan bahwa ” Apa yang dikatakan pak Nazarudin di persidangan kalau ada bagi-bagi uang ke ketua-ketua DPC memang benar,” terucap dengan nada kecewa ismiyati juga mengatakan “Saya korban dari Partai Demokrat juga kok,” tegas Ismiyati. Pernyataannya ini mengartikan kekecewaan Ismiyati ketika dirinya di kecewakan saat pemilihan legislatif tahun 2009 silam.

Satu demi satu pengakuan ini semakin memperjelas bahwa ternyata ada konspirasi busuk hanya untuk mendapatkan sebuah jabatan strategis di partai apalagi kedudukan ketua umum di partai berkuasa jelas salah satu posisi jabatan yang sangat menguntungkan. Ironisnya jabatan itu di peroleh justru dengan cara-cara yang tidak fair dan tidak mendidik. embel-embel demokratis ternyata hanya simbol palsu dari slogan partai. Ini satu bukti kaderisasi di tubuh partai tidak berjalan dengan baik, suap menyuap menjadi tolak ukur untuk meraih posisi sebuah jabatan, tidak lagi berdasarkan faktor loyalitas, dedikasi dan pengabdian yang tulus dari kader partai untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan rakyat indonesia.

Kalau sesama kader partai saja mereka mau melakukan hal seperti itu, lalu bagaimana ketika mereka melakukan pendekatan dan mencari simpati kepada rakyat. pemilu legislatif, pemilukada tentu polanya tidak jauh berbeda ketika mereka mendapatkan jabatan strategis di partai dengan cara suap menyuap. Politik uang sudah bukan lagi sesuatu yang aneh, calon legislatif, calon kepala daerah harus setor di muka kepada partai, kalau tidak setor jangan harap mereka bisa mendapatkan label calon. Itu baru tahap pemilihan calon, belum lagi tahapan selanjutnya, jadi wajar saja pengeluaran yang di butuhkan sangat besar. begitu seterusnya nya seperti lingkaran setan.

Hukum dagang pasti berlaku di sini, berapa pengeluaran atau modal yang sudah di keluarkan sudah barang tentu pendapatannya harus bisa melebihi modal yang sudah di keluarkan, kalau angka modalnya saja sudah milyaran rupiah, sangat tidak mungkin hanya dengan mengandalkan gaji toh, modal mereka bisa kembali. So pasti ada pendapatan lain yang mereka terima dengan cara yang tidak wajar. Karena seperti lingkaran setan maka yang akan menjadi korban adalah rakyat. lihat saja korupsi merajelalela di mana-mana. begini lah akibatnya bila fungsi dan tujuan partai telah di pergunakan dengan cara-cara yang tidak wajar. Jawaban yang pasti adalah “Sama Kader Partai Saja Menyuap Apalagi Sama Rakyat“ dan untuk membayar hutangnya “Rakyatlah yang Menjadi Korban“

Berita Lainnya :
Partai Penguasa Sedang Panik Stress dan Depresi
Skandal Besar Narkoba Dilingkaran Kekuasaan
Zamannya Presiden SBY Paling Menyedihkan
Ketua Umum Partai Demokrat Bebas Pidana