Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Partai Demokrat Ibarat Bis Metromini

Naik metromini itu memang menyebalkan, kita di suruh desak-desakan oleh kondektur, di suruh ke kiri, ke kanan, ke depan atau ke belakang, kita nurut-nurut saja layaknya kerbau. Tujuannya mungkin supaya metromini yang sudah reyot ini memuat penumpang sebanyak mungkin. Kalau ada penumpang yang protes dan marah-marah, kondektur mah cuek aja….emang gue pikirin.

Lebih parah lagi, bila supir metromini ngebut dan ugal-ugalan di jalan hingga membuat para penumpang terguncang-guncang. Belum lagi Sopir metromini rela menginjak rem mendadak hanya karena melihat satu calon penumpang sedang berjalan kaki di tengah jalan. dengan menginjak rem mendadak tersebut telah membuat sekian penumpang yang sudah berada dalam metromini dan sudah membayar ongkos makin terguncang-guncang dan kadang terantuk, mending kalau terantuk bahu penumpang cewek cakep dan berbahu empuk gak masalah….nah kalau terantuk kena tiang besi karatan……bisa benjol nih jidat.

Cerita metromini ternyata sama persis dengan kondisi Partai Demokrat sekarang ini. Kader-kadernya nurut saja di suruh ke kiri oke, di suruh ke kanan oke apalagi di suruh ke depan dan ke belakang. Mereka rela seperti itu asal selamat sampai tujuan. Nah, bagaimana mau selamat sampai tujuan, kalau supir metromininya sedang menyetir kekiri dan kanan serta ugal-ugalan hingga membuat kader-kader partainya, yaitu para penumpang pada terguncang-guncang dan perut menjadi mual-mual.

Kondisi metromini semakin miring dan jalan semakin cepat serta ugal-ugalan, tiba-tiba ada beberapa penumpang protes !!! stop pak supir, kami mau turun di sini saja. kata penumpang yang ternyata seorang perempuan bernama Diana Maringka dan Ismiyati. Turunnya kedua perempuan ini malah di protes dan dianggap turun dan protes tidak pada tempatnya.

He he he emang enak naik metromini ugal-ugalan,

Berita Lainnya :