Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Hore….Indonesia Akan Punya Menara Eiffel

Menara Eiffel adalah kebanggaan Masyarakat Perancis, Menara Eiffel ini termasuk salah salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Wajar saja kalau Komisi III DPR RI bukan hanya sekedar junjungan studi banding terkait rencana revisi Undang-undang KPK namun diduga juga mereka memanfaatkan kunjungan ini dengan jalan-jalan mengunjungi Menara Eiffel.

Walaupun bukan kapasitas Komisi III yang membidangi masalah hukum, dugaan sementara kunjungan ini bisa dimanfaatkan sebagai masukan yang berarti bagi kementerian terkait agar Indonesia juga bisa membangun menara sejenis di Jakarta. 
Gayungpun bersambut, apalagi situasi nasional secara politik semakin memanas akibat perkataan Anas Ketua Umum Partai Penguasa yang siap digantung di Monas apabila terbukti melakukan tindak pidana korupsi.

Perkataan ini memang bisa menjadi bumerang tapi bukan bumerang senjata khas Australia yang juga dikunjungi oleh Komisi III. Tapi bumerang dalam arti bisa menjadi ancaman yang nyata apabila Anas ternyata terbukti bersalah, maka secara moral dia harus mempertanggungjawabkan perkataannya itu didepan publik.

Langkah antisipasi diduga memang tetap harus dilakukan oleh Anas, salah satunya adalah dengan mencari alat pembenaran bukan dalam konteks mensiasati bersalah atau tidak bersalah dalam kasusnya. Tapi mensiasati keberadaan Taman Monumen Nasional tempat dimana eksekusi itu akan dilakukan apabila Anas terbukti bersalah. Langkah yang tepat mensiasati itu adalah dengan merubah Monas menjadi bangunan dalam bentuk lain sehingga ada jawaban pembenaran bahwa Monas sudah tidak ada lagi, jadi eksekusi penggantungan di Monas itu bisa dinyatakan batal karena Monasnya sudah berubah nama dan beralih fungsi.

Lalu apa yang harus dirubah dari Monas, ternyata masukan dari kunjungan Komisi III ke Perancis yang diduga sempat melihat-lihat Menara Eiffel maka hasil kunjungan ini bisa menjadi masukan yang berarti serta bisa menjadi ilham agar Monas diganti dengan struktur bangunan baru mirip Menara Eiffel bahkan lebih tinggi dan megah daripada Menara Eiffel di Perancis. Rencananya nama Monas pun akan diganti menjadi Menara Nasional atau disingkat menjadi MENAS. Wah hebat juga dong kalau Monas diganti mirip Menara Eiffel dan kata Monas berubah menjadi Menas he he he
Menara Eiffel Indonesia
Tahukah anda bahwa sebenarnya Indonesia pada Tahun 1898 pernah mendirikan replika menara Eiffel di Tasikmalaya, buktinya foto ini. Menara Eiffel dari bambu di Tasikmalaya yang dibuat untuk menghormati penobatan Ratu Wilhelmina pada tahun 1898 dan dirancang dan dilaksanakan oleh pengawas Air AH van Bebber

Tasikmalaya mungkin merupakan kota pertama di dunia yang membuat replika-nya dari bahan non-metal kira-kira 2 tahun setelah berdirinya menara Eiffel asli. Dari foto tersebut terlihat perbandingan tinggi manusia dan menara, kemungkinan tingginya sekitar 40-50 meter. Letak pembangunannya tidak jelas, mungkin di alun-alun depan pendopo. Replika menara Eiffel bambu Tasikmalaya jauh lebih tinggi dari replika menara Eiffel bambu yang dibuat di Erasmusburg Rotterdam Negeri Belanda April 2008 yang tingginya hanya 15 meter.

Berita Lainnya :