Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Benarkah Bung Karno Dibunuh ?

Dewi Soekarno, wanita keturunan Jepang dan istri termuda Bung Karno, secara eksplisit menyebut suaminya meninggal secara tidak normal (diracun). Dan, secara implisit, ia menuding Pak Harto sebagai pembunuh melalui kaki tangannya. Mengapa Bung Karno dibunuh ? Setelah Pak Harto menjadi Presiden/Mandataris MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara), kekuasaannya memerlukan legitimasi. Jalurnya melalui Pemilu 1971. Tapi, Pemilu 1971 itu menjadi inkonstitusional selama Indonesia memiliki dua presiden : de jure (Bung Karno) dan de facto (Pak Harto). Jadi, salah satunya memang harus disingkirkan. Bung Karno meninggal atau tersingkir secara permanen pada tahun 1970.

Tudingan Dewi ini dimuat tabloid Detak yang dikelola Eros Djarot di akhir 1980-an. Eros dikenal sebagai salah seorang pendukung Bung Karno. Belakangan, Eros juga mengkritik cara media-media di Indonesia memberitakan kematian Pak Harto. Kesan Eros, beberapa media berusaha menutupi sisi gelap masa lalu Pak Harto dan saat dikonfirmasi kembali tentang wawancara Dewi itu, Eros membenarkannya.

Begitu juga salah satu pengakuan Putri Bung yaitu Sukmawati yang mengatakan hari-hari terakhir Soekarno Pada tahun 1970, kendati Soekarno sakit keras, Soeharto dengan perasaan tidak manusiawi melarang anggota keluarga proklamator kemerdekaan Indonesia itu mendampinginya. Yang menyedihkan lagi, Soeharto yang waktu itu menjabat presiden tidak menghormati Soekarno sebagai mantan presiden, layaknya mantan presiden lainnya.

Soeharto memilih dokter hewan untuk mendampingi dan merawat Soekarno. Saat Bung Karno sakit dan dirawat di rumah, bukan hanya fasilitas medis yang tidak memadai, tim medis dan dokter yang merawatnya pun tidak bisa disebut sebagai dokter ahli. Salah seorang yang ditugaskan merawat Bung Karno, menurut Sukma, berstatus dokter hewan !

Mari Bicara Kebenaran
Generasi muda Indonesia sebagai pemegang tongkat estafet perjalanan bangsa hari ini harus mulai “peduli” dengan sejarah. Generasi muda hari ini harus mulai mendekatkan diri dengan kebenaran yang bila tidak disajikan secara logis harus ditelusuri keberadaannya.

Dengan belajar memahami sejarah, kita mengenal bangsa sendiri. Sejarah adalah cermin. Sehingga kita bisa bercermin tentang siapa diri kita sebenarnya. Tentu saja berharap kita bukan bangsa pendendam Sejarah konon adalah milik penguasa atau dalam istilah popular di masyarakat “ sejarah adalah milik pemenang ”.

Begitu juga setiap perjuangan ide dan paham di sepanjang kehidupan manusia selama ratusan atau bahkan ribuan tahun, sejarah pula yang nanti akan mencatat, menghakimi dan menjawabnya. kini semakin nyata di depan mata siapakah yang benar-benar bercita-cita keras dalam mengangkat nasib rakyat ketarap hidup yang lebih baik, kini sejarah pula yang menghakimi siapa pendukung siapa, siapa pengacau siapa dan dalam kenyataan yang lebih tegas, siapakah yang layak di sebut patriot dan siapakah yang pantas di sebut pengkhianat ? dan layak kah mereka yang dulu pernah berpesta pora diatas penderitaan rakyat menjadi seorang “PATRIOT”, sejarah pula nanti yang akan membuktikan bahwa mereka memang tidak layak menjadi “PAHLAWAN"