Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Uang 25 Juta Dikembalikan ke Istana Negara

Keadilan hukum memang tidak pernah berpihak pada masyarakat kecil, selalu saja rakyat kecil hanya menjadi korban atau dikorbankan dalam setiap kasus hukum yang menimpanya. Salah satunya adalah Indra Azwan yang menuntut keadilan harus ditegakkan terkait dengan kematian anaknya yang menjadi korban tabrak lari tahun 1993 silam.

Indra lelaki asal malang jawa timur tetap menuntut keadilan atas bebasnya Inspektur Satu Joko Sumantri yang menabrak anaknya hingga tewas. Upaya Indra antara lain menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menjanjikan mau membantu. Sewaktu datang ke Jakarta pada tahun 2008, Indra pernah mendapat bantuan uang dari Presiden SBY sebesar Rp 25 juta. Kala itu, Presiden memerintahkan Kapolri, Kemenkum dan HAM, Satgas Mafia Hukum dan Sekretariat Negara Sudi Silalahi untuk menyelesaikan kasus kematian anaknya Indra. Sayang, berbulan-bulan berlalu, keadilan belum menjadi milik Indra.

Karena tidak ada kepastian hukum, akhirnya Indra nekat jalan kaki dari malang ke Jakarta untuk bisa bertemu kembali dengan Presiden SBY perjalanannya ini dimulai sejak tanggal 18 februari 2012 , setibanya dijakarta tanggal 20 maret 2012, sekitar pukul 12.30 WIB, Indra ditemui oleh Wakil menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana dikomplek Istana Negara, Denny mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sedang berada di Istana Bogor.

Saat pertemuan dengan Denny, Indra menyampaikan uneg-unegnya. Sesuai janjinya, ia berjalan kaki dari Malang menuju Jakarta untuk mengembalikan uang pemberian dari pihak Istana. “Sesuai janji saya, berjalan kaki dari Malang untuk mengembalikan uang pemberian dari Kepala Rumah Tangga sebesar 25 Juta Rupiah,” ucap Indra di hadapan Denny. Saya tak butuh materi. saya hanya butuh keadilan. “Tidak ada tawaran lain,” kata pria tiga anak itu. Kalau kasus ini tidak selesai, saya mau ke Mekkah saja, Di sana tempat mengadu terakhir bagi saya. Setelah di sini, monyet-monyet pada budek, manusia-manusianya buta dan budek, tak ada tempat lagi buat saya mengadu selain di Mekkah,” kata pria yang sehari-hari di kampungnya membuka usaha warung kecil tersebut.

Mengapa kasus ini begitu lambat penanganannya padahal sudah terjadi 19 tahun yang lalu, apalagi kasus ini sempat mendapat perhatian dari Presiden SBY ketika tahun 2008 Presiden menjanjikan mau membantu bahkan Indra mendapat bantuan uang dari Presiden SBY sebesar Rp 25 juta. Berbulan-bulan Indra menunggu namun tetap tidak ada kepastian hukum. Sehingga wajar saja kalau akhirnya Indra nekat pergi jalan kaki dari Malang ke Jakarta hanya untuk mengembalikan uang 25 Juta Rupiah dan meminta kepastian hukum terkait kasus kematian anaknya.

Lambatnya penanganan kasus ini membuktikan bahwa Pemerintah memang tidak mampu memberikan rasa keadilan bagi rakyat kecil, Pemerintah telah gagal menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai pelayan masyarakat. Masih pantaskah kita sebagai rakyat memberi kepercayaan kepada pemerintah yang tidak bisa menjalankan tugasnya ini. Apakah dengan uang 25 Juta rupiah dipikir dapat menyelesaikan masalah. Pemberian uang ini juga patut dipertanyakan, semudah itukah hanya dengan memberi uang langsung dianggap perkara selesai. Sebagaiman disampaikan secara tegas oleh Indra yang mengatakan ”Saya Tidak Butuh Materi, Saya Hanya Butuh Keadilan”