Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Siapakah Pembunuh Mahasiswa ITB “Rene Louis Coenraad” ?

Siapakah Pembunuh Mahasiswa ITB
Foto ibunda Rene ketika menunjuk Gubernur Akpol Irjen Awaludin Jamin, karena kesal melihat kematian anaknya akibat di keroyok oleh Oknum Taruna Akademi Kepolisian tahun 1970. Insiden pengeroyokan itu terjadi di depan kampus ITB, sejumlah oknum Taruna Akpol mengeroyok Rene usai kekalahan mereka dalam pertandingan sepakbola.

Rene tewas tertembak, ironisnya justru seorang Bintara Polisi dituduh sebagai pembunuhnya, tapi bagi seluruh mahasiswa ITB ada keyakinan yang tertanam bahwa pembunuh sebenarnya ada diantara oknum Calon Perwira Akpol Angkatan 1970. Sang Bintara itu hanyalah korban pengkambing hitaman untuk menyelamatkan perwira masa depan itu.

Peradilan pertama dengan terdakwa Brigadir Polisi dua Djani Maman Sujarman berlangsung marathon, kurang dari sebulan sejak peristiwa tersebut. Akhir bulan desember Mahkamah Militer Priangan-Bogor memjatuhkan vonis untuk Djani dengan hukuman 5 tahun 8 bulan, Kemudian dalam pengadilan banding Mahkamah Kepolisian Tinggi pada tanggal 13 April 1972, hukuman Djani turun menjadi 1 tahun 6 bulan atas kealpaan yang menyebabkan kematian Rene Louis Coenraad. Bila pengadilan terhadap Djani begitu cepat namun tidak bagi persidangan kedua dengan terdakwa 8 oknum Taruna Akpol yang justru sudah menjadi perwira aktif, persidangan berlangsung tahun 1973 dan berakhir tahun 1974 dengan putusan menggembirakan bagi perwira muda itu, hukuman percobaan dalam hitungan bulan.

Tuduhan terhadap Djani sebenarnya tidak di topang oleh hampir seluruh kesaksian, baik dari kalangan mahasiswa, para anggota brimob yang bertugas di tempat kejadian maupun kesaksian Ahli Forensik, yang memberikan kesaksian memberatkan hanya para mantan Taruna itu. Djani sendiri dengan kata-kata yang mengharukan penuh kegetiran mengatakan dalam pembelaannya “saya melihat dengan mata kepala sendiri, Rene dikejar, dipukul, tapi ketika saya datang untuk menolong, saya juga ikut terpukul. Saya sangat sedih dan tindakan ini sangat kejam, saya yang justru menolong Rene dari pukulan Taruna Akpol malah dituduh dan dituntut oleh Oditur, Bapak hakim, saya hanyalah seorang yang bodoh tidak berpendidikan tinggi tak ada artinya sama sekali dibandingkan dengan saksi-saksi dari mantan taruna akpol tersebut, namun oleh Oditur maupun majelis hakim tetap tidak mendengarkan pembelaan Djani yang memilukan publiK saat itu.

Meski kedua proses peradilan terkait insiden 6 Oktober 1970 dengan tewasnya Rene ini telah menentukan Djani sebagai pembunuh, namun pada hakekatnya masih tersimpan sebuah misteri tak terjawab siapa pembunuh sebenarnya Rene Louis Coenraad ? Mahasiswa menyakini, pembunuh itu terselip diantara Taruna Akpol 1970 dan ini adalah noda yang melekat pada Taruna Akpol Angkatan 1970 yang belum terselesaikan dan senantiasa akan tetap tercatat sebagai kejahatan yang belum terungkap sampai saat ini. Kelak di kemudian hari perwira-perwira muda ini banyak yang berhasil menjadi petinggi Polri.

Pada tanggal 7 Oktober 1970, Mahasiswa dan pelajar bandung mengadakan aksi besar-besaran mengecam pembunuhan Rene Louis Coenraad, sekaligus menunjukan solidaritas mereka kepada rekan mereka mahasiswa ITB yang tewas. Aksi demontrasi ini di ikuti 50.000 massa aksi dan pada tanggal 9 Oktober 1970 diadakan apel suci di kampus ITB untuk melepas jasad Rene Louis Coenraad kepada keluarga untuk dimakamkan di Jakarta. Ibu Rene terlihat sangat marah kepada Gubernur Akpol waktu itu Jenderal Awaludin Jamin, bisa dilihat pada foto kemarahan sang Ibu, Tindakan yang mengharukan dari seorang Ibu yang telah kehilangan Putra kesayangannya akibat dikeroyok.

Sumber :
- Francois Raillon 1984, Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia 1966-1974. Jakarta : LP3ES
- Rum Aly 2006 : Titik Silang Jalan kekuasaan 1966 Jakarta: Kata Hasta (diambil dari notes Hanief Adrian (PL ‘03)
- Situs : http://gerakan mahasiswa79.blogspot.com

Berita Lainnya: