Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Saya Tetap Tidak Suka Dengan Soeharto

Setiap manusia punya hak untuk menentukan sikap, maka berdasarkan hak itu, jangan paksakan saya untuk suka pada mantan pemimpin Orde Baru Soeharto, walaupun kini beliau sudah meninggal dunia. Rasanya tidak adil kalau saya mengatakan suka kepada Soeharto, sementara yang bersangkutan tidak pernah meminta maaf kepada rakyat Indonesia. Padahal masih banyak orang yang menjadi korban Pak Harto sewaktu beliau berkuasa, mereka semua masih pada hidup salah satunya adalah korban Gestapu dan korban-korban yang lainnya.

Masih ingatkah anda dengan pembantaian massal dalam sejarah kelam Republik Indonesia, peristiwa pembantaian yang dilakukan terhadap mereka yang di anggap Komunis pasca Gestapu 1965, peristiwa ini akan tetap selalu menjadi ingatan yang sangat memilukan sejarah dan catatan perjalanan bangsa.

Menurut Komisi Pencari Fakta yang dibentuk setelah peristiwa berdarah itu, jumlah korban hanya 78.000 orang, tapi Oei Tjoe Tat Menteri Negara zaman Bung Karno yang menjadi Ketua Tim Komisi Pencari Fakta justru meragukan penemuan itu, suatu sa’at setelah laporan Komisi pencari Fakta selesai Oei Tjoe Tat di panggil Bung karno secara sembunyi-sembunyi “sst…..sini sebentar, berapa angka yang sesungguhnya kata Bung Karno ? loh kan ada releasenya pak, sekitar 78.000 ? sudah lah saya tidak percaya sergah Bung Karno, Oei Tjoe Tat lalu melihat sekelilingnya karena takut ada yang mendengar, lalu ia membisiki Bung Karno, ya di kali kan lima kali lipat saja pak dari angka itu. kelak Oei Tjoe Tat di tahan Rezim Orde Baru karena dianggap sebagai orang Soekarno.

Anehnya Kopkamtib, Lembaga bentukan Orde Baru yang sangat berkuasa dalam laporannya menyebutkan angka hampir sebesar 1 juta orang dengan rincian 800.000 korban di Jawa dan 100.000 korban di Bali dan Sumatera. besarnya angka itu juga menunjukan adanya praktek Genosida yakni menghilangkan kelompok tertentu. Jika Pol Pot melakukan pembantaian massal pada rakyat Kamboja butuh waktu beberapa tahun untuk menghilangkan Kelas Borjuis dan Intelektual, namun di Indonesia mereka melakukan Pembantaian hanya dalam hitungan bulan.

Bagaimana kita mesti menjelaskan terhadap ratusan ribu rakyat di bantai dalam pesta pora di lautan darah rakyat tak berdosa, banyak diantara mereka puluhan ribu guru yang hilang dari sekolah-sekolah dalam periode tersebut, mereka tak tahu apa-apa tentang politik, sehingga bergabung dengan gerakan sempalan PGRI non vaksentral yang memberi semboyan ” Jika Guru Lapar Mereka Tak Bisa Mengajar ” sejumlah data menyebut angka 30.000 ribu sampai 92.000 ribu guru dibunuh.

Siapa dalang sesungguhnya peristiwa berdarah tersebut ? namun fakta menunjukan setelah mereka berpesta pora diatas lautan darah rakyat yang tak berdosa, mereka berpesta pora kembali dengan melakukan kontrak-kontrak kerjasama terhadap perusahaan-perusahaan asing milik Amerika untuk menjarah Sumber Kekayan Alam Indonesia yang memang pada sa’at itu sangat melimpah maka tercipta lah kemudian pesta pora yang baru di ladang-ladang Korupsi yang subur. Indonesia telah menjadi surga baru bagi investor-investor kapitalis.

Lewat perampokan raksasa yang terlembaga ini, ditambah dengan seperangkat kebijakan di mana Rezim Orde Baru menjamin kepentingan mitra usahanya terutama dari Amerika, maka tidaklah mengherankan bahwa gelombang pemasukan dari Minyak, Tembaga, Emas, Intan, Uranium memberikan sedikit sumbangan atau bahkan tidak sama sekali bagi pembangunan ekonomi yang rasional atau membantu penduduk di lapisan bawah dan lihat sekarang ini, Indonesia masih saja tetap miskin, utang yang semakin besar tapi kekayaan alam sudah hampir habis di rampok oleh mereka yang senang berpesta pora di atas penderitaan rakyat, melihat fakta-fakta seperti ini kembali saya katakan bahwa saya tetap tidak suka dengan Soeharto.

Pesta pasti akan berakhir, satu demi satu peserta pesta tersebut sedang menanti pertanggungjawaban di Mahkamah Sejarah, karena segala apapun yang telah kita perbuat dalam hidup ini, baik atau jahat, benar, salah atau keliru, atau kekeliruan dan kesalahan yang di pertahankan tentunya semua nanti harus di pertanggungjawabkan. dan sa’at ini, mereka yang dulu pernah berpesta pora di atas darah dan air mata rakyat, telah sampai pada titik pertanggungjawaban yang mengantarkan mereka ke Pengadilan TUHAN.

Begitu juga setiap perjuangan ide dan paham di sepanjang kehidupan manusia selama ratusan atau bahkan ribuan tahun, sejarah pula yang nanti akan mencatat, menghakimi dan menjawabnya. kini semakin nyata di depan mata siapakah yang benar-benar bercita-cita keras dalam mengangkat nasib rakyat ketarap hidup yang lebih baik, kini sejarah pula yang menghakimi siapa pendukung siapa, siapa pengacau siapa dan dalam kenyataan yang lebih tegas, siapakah yang layak di sebut patriot dan siapakah yang pantas di sebut pengkhianat ? dan layak kah mereka yang dulu pernah berpesta pora menjadi seorang “PATRIOT”, sejarah pula nanti yang akan membuktikan bahwa mereka memang tidak layak menjadi “PAHLAWAN”

Berita lainnya :