Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Ramalan untuk Andi Mallarangeng

Seorang bule mendatangi Andi Mallarangeng ketika sedang bermain Golf, kepada Andi, si bule berbisik dengan serius, “Saya berani pastikan sesuatu akan terjadi. Dalam waktu sebulan ini, Bapak Andi akan segera ditahan, tanda-tanda itu nanti dapat terlihat di lidah Pak Andi yang akan timbul benjolan kecil sebagai bukti bahwa perkataan bapak dusta selama di persidangan, waktu bapak Andi duduk sebagai saksi kasus suap Wisma Atlet. kata si bule polos 

Andi Mallarangeng kaget, mau marah, tapi si bule berkata lagi: “Saya bisa meramal, Bapak, percayalah ! Kalau dalam tempo satu bulan ini lidah bapak tidak ada benjolan kecilnya, saya akan mengaku kalah. Saya akan bayar Bapak 300 juta Rupiah. 

Karena merasa yakin benar tidak berdusta dan tidak akan mungkin timbul benjolan kecil di lidahnya, akhirnya Andi Mallarangeng berpikir, si bule akan kalah. “Oke, kita bertaruh saja ! Kalau lidah saya ada benjolan kecil, saya akan bayar kamu 300 juta Rupiah, Kalau tidak ada, kamu yang akan bayar saya 300 juta Rupiah. 

“Oke, oke. Kita bertaruh!”, jawab si bule. 

Semenjak itu, setiap pagi, sehabis mandi, sebelum ke kantor, Andi Mallarangeng diam-diam membuka mulutnya dan meleletkan lidahnya dicermin untuk memastikan tidak ada benjolan kecil di lidahnya. Andi Selalu mengecek terkadang timbul juga rasa cemas, jangan-jangan si bule ini benar. Kadang-kadang dia memang melihat sedikit ada benjolan kecil di lidahnya. Begitulah tiap hari dia selalu memeriksa lidahnya. 

Pada akhir bulan, dia datang ke kantor pagi-pagi. Itu lah hari yang menentukan buat Andi Mallarangeng menang atau kalah. Tapi agak kaget juga dia, lantaran di ruang tunggu tamu pagi-pagi itu si bule sudah duduk menanti. Juga Andi Mallarangeng merasa heran, karena bersama si bule ada seseorang yang dia kenal sebagai pengacara top di negeri ini. 

Si bule berbisik kepada Andi mallarangeng: “Bapak, kita berdua perlu wasit. Maka saya bawa pengacara ini bersama saya untuk jadi wasit, mana di antara kita yang menang. Bapak setuju, kan ? 

Andi Mallarangeng sangat setuju sekali, Andi sangat bersemangat, karena tadi pagi sebelum berangkat dia sudah mengadakan pengecekan atas kondisi lidahnya sendiri, dan tak ada perubahan yang nampak. Berarti di akan dapat uang. 

Selanjutnya mereka segera masuk ke dalam ruang duduk Pak Andi, Ajudan di suruh pergi, juga sekretaris. yang ada di kamar itu cuma Pak Andi, si bule, dan Pengacara. 

Pak Andi pun memperlihatkan lidahnya. “Lihat !”, serunya dengan percaya diri sendiri. “Kalian lihat sendiri bagaimana lidahku tidak ada benjolan kecil dan Pak Andi melakukan sambil memeletkan lidahnya sambil si bule iktu juga memeriksa lidahnya itu.. 

Si bule nampak kecewa. Ia pun berbisik kepada pengacara, yang segera pergi keluar dari ruangan. Lalu si bule berkata kepada Andi Mallarangeng, Bapak yang menang, saya yang kalah, saya bayar Bapak 300 juta Rupiah . Kontan !”. Dan dari tas kulitnya dia keluarkan uang bundelan. Setelah di hitung, ada 300 juta Rupiah banyaknya. 

Pak Andi berwajah sumringah. “Makanya jangan takabur. Sok pinter meramal !” begitu nasehat dan cemoohnya kepada si bule. Lalu dia menyuruh si bule keluar. Segera setelah itu, dia panggil sekretaris dan ajudannya. Dia mau traktir mereka makan di Hotel Mulia dengan uang kemenangan mudah itu. Tapi dia lihat ajudannya gugup. Ada apa ? 

Ternyata sang ajudan melihat si bule ketawa lebar ketika keluar dari ruang Pak Andi. “Gue menang !”, serunya kepada pengacara yang masih duduk di ruang tunggu. “Lu harus bayar gue 1 Milyar Rupiah Adapun sebelum datang rupanya si bule bertaruh dengan pengacara bahwa pagi itu dia akan bisa membuat Pak Andi Mallarangeng memeletkan lidahnya dan sekaligus bisa memegangnya. He he he pintar juga tuh si bule.

Berita Terkait :