Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Kumis Bang Foke Tidak Menarik Lagi

Mengurus Kota metropolitan Jakarta ternyata tidak semudah yang di bayangkan, embel-embel “Pilih Ahlinya” ternyata cuma jargon politik pepesan kosong doang. realita ini terwujud selama kepemimpinan Bang Foke sebagai orang nomor satu di ibu Kota Republik Indonesia ini.

Bagaimana mungkin seorang ahli tapi tidak mampu berdaya upaya membenahi kota Jakarta dengan segudang masalah yang tidak bisa tertangani dengan baik. Banjir, Macet, tata ruang yang amburadul dan sebagainya masih tetap menjadi fenomena kesemrawutan kehidupan Kota Metropolitan Jakarta.

Lalu apa saja yang sudah di lakukan oleh Bang Foke panggilan akrab orang nomor satu di DKI Jakarta ini selama beliau memimpin sebagai Gubernur. Padahal dulu warga Jakarta memilih Bang Foke karena dianggap mampu membawa Ibu Kota menjadi tempat yang lebih nyaman. Bang Foke dianggap gagal mengatasi sejumlah masalah klasik di Jakarta seperti kemacetan, rumah kumuh, dan banjir, sampai sa’at ini ternyata berbagai persoalan tersebut yang perlu di atasi oleh Foke tak kunjung selesai.

Begitu pula masalah manajemen pemerintahan yang kacau balau, penggunaan anggaran daerah yang tidak efisien, PAD yang tidak sesuai harapan hingga tidak adanya tolok ukur atau parameter keberhasilan yang jelas, terungkapnya kasus dugaan persekongkolan tender tahun 2011 yang di lakukan para pejabat di lingkungan pemerintahan DKI Jakarta yang nilainya ratusan milyar rupiah bisa menjadi tolak ukur kondisi pemerintahan yang kacau balau tersebut.

Belum lagi masalah kenyamanan transportasi bagi kaum wanita, yang akhir-akhir sering terjadi kasus pemerkosaan di dalam angkutan umum, hingga membuat kaum wanita merasa takut untuk mempergunakan angkutan umum, konyolnya Bang Foke pernah mengatakan bahwa kasus pemerkosaan di akibatkan karena wanita memakai rok mini. Kontan pernyataan Bang Foke itu menyulut kemarahan masyarakat. Pernyataan Bang Foke itu dianggap wujud tidak punya rasa tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, akhirnya setelah mendapat kecaman, Bang Foke meralat ucapannya dan minta maaf pada publik.

Lebih parah lagi hubungan harmonis antara Bang Foke dengan Wakilnya yang berimbas mundurnya Prijanto sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, tentu menjadi tanda tanya besar buat publik, pasti ada sesuatu di balik mundurnya Prijanto. Tak lama setelah Prijanto mundur, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu melaporkan dugaan penyimpangan penggunaan anggaran yang di lakukan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Lengkap sudah persoalan demi persoalan yang di hadapi oleh Bang Foke yang punya ciri khas kumis yang tebal dan kumis tersebut sempat menjadi daya tarik ketika kampanye Pilkada lima tahun yang lalu.

Masih menarikkah kumis Bang Foke, kalau melihat persoalan yang belum bisa teratasi dengan baik dan cenderung tidak bisa di lakukan lagi oleh Bang Foke, sehingga jargon politik “Pilih Ahlinya” ternyata sudah tidak mampu menyelesaikan persoalan yang ada di Jakarta, Malah di masyarakat sudah ada sindiran terhadap Bang Foke, ternyata kata-kata ahli sudah terwujud dalam bentuk, Ahlinya bikin banjir, Ahlinya Bikin Macet dan ungkapan jangankan ngurusin masalah pembangunan dan kehidupan sosial masyarakat. Ngurusin internalnya saja Bang Foke dianggap gagal.

Maka menyongsong Pilkada Gubernur DKI Jakarta yang sebentar lagi akan bergulir, kelihatannya peluang Bang Foke untuk tampil kedua kalinya sangat berat, semboyan “Pilih Ahlinya” sudah dianggap oleh masyarakat hanya pepesan kosong, Foke dinilai sebagai pemimpin ambisius tapi tidak bisa kerja, jadi wajar saja kalau “Kumis Bang Foke Tidak Menarik Lagi”

Berita Lainnya :
Fauzi Bowo Mendapat Raport Merah