Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Kisah Cicit Soeharto Rehabilitasi Tanpa Penjara

Masih ingatkah kita terhadap kasus penyalahgunaan Narkoba yang menjerat Putri Aryanti, sa’at itu memang Hukum sepertinya tidak berpihak kepada rakyat miskin, masih saja ada diskriminasi terhadap kasus hukum, Cicit mantan Presiden Soeharto, Putri Aryanti Haryo Wibowo menjalani sidang Pembacaan Vonis kasus narkoba di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (25/8/2011). Majelis Hakim membebaskan terdakwa dari dakwaan primer dan memerintahkan Putri dari pasangan Ari Sigit-Gusti Maya Firanti Noor ini untuk menjalani program rehabilitasi selama satu tahun di RSKO Cibubur, Jakarta Timur. Rehabilitasi yang akan di terapkan oleh Putri selaku pengguna narkoba itu nanti akan di jalaninya selama enam bulan di RSKO Cibubur dan enam bulan rawat jalan.

Sebelumnya, Putri tertangkap bersama Gaus Notonegoro dan Eddie Setiono di kamar 826 hotel Maharani, bulan Maret 2011. Di kamar itu ditemukan plastik berisi sabu seberat 0,88 gram dan satu set peralatan untuk mengkonsumsi sabu. Berdasarkan hasil pemeriksaan urin, Putri tergolong sebagai pecandu narkotika. Kemudian dalam proses persidangan tim jaksa penuntut umum (JPU) Trimo menuntut hukuman 1 tahun potong tahanan penjara dan biaya perkara Rp 2.000 di jatuhkan kepada Putri Aryanti Haryowibowo. Menurut JPU, Putri terbukti menggunakan narkoba untuk diri sendiri. Untuk itu Putri terbukti melanggar Pasal 127 ayat 1 huruf a, sesuai dakwaan subsider. Namun akhirnya Majelis hakim tetap memutuskan membebaskan terdakwa dari dakwaan primer dan memerintahkan Putri dari pasangan Ari Sigit-Gusti Maya Firanti Noor ini untuk menjalani program rehabilitasi selama satu tahun. Putusan terhadap cicit mantan presiden Soeharto ini sangat berbeda dengan beberapa kasus korban Narkoba lainnya.

Perbedaan tuntutan hukum ini sangat melukai hati rakyat, banyak kasus serupa tapi putusannya sangat berbeda, ini bentuk diskriminasi terhadap pelaku perbuatan melawan hukum. Tidak ada rasa keadilan, siapa kuat, banyak harta dan kekuasaan itulah yang menang. Keadilan sepertinya hanya berlaku untuk rakyat biasa. Untuk orang orang yang mempunyai latar belakang kekuasaan dan kekayaan seolah olah hukum tidak menyentuh mereka. Sepertinya mereka berada di atas tangan hukum.
Dimana keadilan di Indonesia. Di mana yang namanya hukum di Indonesia. Sudah jelas-jelas tersangka pengguna sabu sabu, kenapa tidak di berikan pelajaran yang cukup. Atau paling tidak hukuman tersebut cukup untuk menjadi pelajaran buat tersangka. Jangan karena Putri cicit mantan Presiden dan masih mempunyai jalur ke pusat kekuasaan di Indonesia maka Putri mendapatkan keringanan.

Sangat enak sekali perlakuan ini, Bayangkan kalau ini terjadi terhadap rakyat biasa. Seperti Roy Marten. Padahal sama-sama pemakai sabu sabu. Termasuk terhadap beberapa artis dan penyanyi di Indonesia. Mereka masuk dan harus mendapatkan pelajaran. Tapi Putri ? cukup 1 tahun rehabilitasi tanpa penjara. Apalagi kasus Narkoba bukan hanya Monopoli orang berduit dan punya kekuasan saja, banyak juga rakyat kecil terlibat kasus penyalagunaan Narkoba, tapi mereka tidak menjalani program rehabilitasi, yang pasti mereka di putus dan di tempatkan di hotel prodeo. Ketidak adilan ini lah yang benar-benar sangat melukai rakyat kecil.

Ternyata reformasi di bidang hukum hanya jalan di tempat tanpa adanya perubahan secara signifikan. Hakim, jaksa, kepolisian sama saja. mereka pandai memainkan peran untuk menentukan status hukuman bagi seseorang yang terlibat kasus hukum. mau dibawah kemana negeri ini kalau aparat penegak hukumnya saja sudah seperti itu. hukum mudah dibeli oleh siapa saja yang mampu menyediakan financial apalagi bila punya kekuasaan, tentu akan semakin mudah untuk tidak terjerat kasus hukum. Sa’at ini Hukum memang hanya berpihak pada siapa yang kuat dia yang menang.

Sekedar catatan bukan hanya kasus Narkoba, kasus kriminal yang lainnya pun sama saja, perbedaan hukuman selalu tidak berdasarkan azas keadilan. Rakyat kecil yang hanya mencuri sandal jepit, mencuri kakao dan sebagainya di hukum tidak sebanding atas perbuatannya, apalagi dibandingkan dengan kasus Korupsi terlihat sangat menyolok mata perbedaan hukumannya itu, Lalu sampai kapan Keadilan ini akan berakhir ? semoga kisah lama kasus cicit mantan Presiden Soeharto ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita semua, Bahwa Rakyat Butuh Keadilan.

Berita Lainnya :