Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Jangan Lupakan Orangtua Kita

Orang Tua Agus Sutondo
Teringat sebuah pesan dari seorang sahabat yang sekarang berdomisili di negeri kincir Angin “ Gus jangan harap di sini anak akan peduli kepada orangtuanya nanti, bila mereka sudah besar” pesan melalui email ini sempat membuat saya merenung dan berpikir sejenak “ Benarkah semua itu, apakah ini akibat budaya kebebasan yang ada di negeri kincir angin tersebut ? apakah budaya itu lambat laun juga akan memasuki kehidupan di masyarakat kita yang terkenal dengan budaya menghormati dan menyayangi orangtua kita.

Maka agar budaya tidak peduli kepada orangtua itu tidak merasuki kehidupan di Negara kita, mudah-mudahan cerita di bawah ini bisa menjadi renungan agar hal tersebut tidak terjadi, berikut kisahnya :


Cerita ini adalah kisah seorang kakek tua yang sangat menyedihkan dan memilukan, kakek dengan keadaannya yang sudah tua dan tak mampu lagi untuk mengerjakan sesuatunya dengan sendiri.


Kakek tua yang tinggal bersama anak, menantu, dan seorang cucu laki-lakinya. Penglihatan si kakek sudah tidak begitu jelas lagi. Dan kakek itu sudah tidak dapat mendengar dengan baik. Begitu juga lututnya sudah mulai bergetar bila sedang berdiri. Terkadang jika ia duduk di meja makan, ia tidak dapat lagi memegang sendoknya dengan erat. Dan tanpa sengaja seringkali Ia menumpahkan makanan di atas meja makan, Bahkan makanan yang keluar dari mulutnya.


Melihat kondisi seperti itu, anak dan menantunya merasa jijik saat makan bersamanya. Oleh sebab itu mereka memutuskan untuk tidak memperbolehkan kakek tersebut untuk makan bersama-sama mereka lagi. Mereka menempatkan sang kakek di tempat khusus, makan hanya dengan mangkok yang kecil. Ia sering tidak mendapat makan dan minum yang cukup dan tentu saja ia tetap lapar dan haus. Terkadang sesekali ia mencoba melihat-lihat makanan yang ada di meja makan mencoba untuk menghilangkan laparnya.


Suatu ketika di saat jemarinya yang sudah tua tidak dapat lagi memegang mangkuk dan mengakibatkan mangkuk itu jatuh dan pecah. Maka menantu perempuannya mencaci-makinya habis-habisan. Tetapi kakek tua itu hanya bisa diam dan pasrah, kakek itu membiarkan semuanya terjadi.


Karena kejadian itu sering terulang, akhirnya menantunya membelikan sebuah piring yang terbuat dari kayu dengan harga yang tidak terlalu mahal. menantunya itu tidak ingin lagi ada mangkuk yang pecah di rumahnya, dengan begitu ia lebih tenang karena sangat mustahil piring dari kayu itu bisa pecah. Maka mulai sa’at itu kakek tua tersebut makan dengan piring yang terbuat dari kayu.


Suatu hari anaknya yang masih berumur 5 tahun sedang belajar menggambar dan hasilnya seperti sebuah piring. "Apa yang sedang kamu buat, Nak ?" tanya ayahnya. "Saya sedang membuat sebuah piring kayu ," jawab anaknya polos, "dengan piring ini ayah dan ibu akan makan, jika nanti saya sudah besar."


Ayah dan ibunya saling bertatapan teringat perlakuan mereka yang selama ini memberikan makan orang tuanya dengan piring kayu. Mereka mulai membayangkan hal tersebut terjadi kepada mereka. Tanpa sengaja sang ibu menangis dan langsung memeluk anaknya. Sejak kejadian itu mereka selalu memapah sang kakek ke meja makan, untuk makan bersama. Jika ia lapar atau haus, mereka segera membawakan makanan dan minuman untuknya. Mereka tidak lagi mempersalahkan perlakuan sang kakek, meski harus selalu membersihkan sisa makan sang kakek yang selalu tumpah di meja makan.


Semoga cerita ini bisa menjadi pengingat bagi kita yang masih muda, bahwa kita juga akan menjadi seperti mereka yang sudah tua yang selalu membutuhkan pertolongan orang lain. Bahkan bisa jadi nantinya kita akan lebih menyusahkan anak-anak kita. Jadi tanamkan sifat kesabaran dan keikhlasan menerima semuanya , saling mengerti dan menyadari keadaan orang tua kita, agar nantinya anak-anak kita dapat memperlakukan kita dengan baik karena sekecil apapun hal yang kita lakukan hari ini akan berdampak di kemudian hari

Berita Lainnya :