Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Andi Mallarangeng Ternyata Pengecut

Kata pengecut dan lepas tanggungjawab selayaknya memang pantas diberikan kepada Andi Mallarangeng, karena beliau selaku Menteri Olaharaga dan Pemuda yang diberi tanggung jawab selaku kapasitasnya sebagai Pengguna Anggaran pada kegiatan pembangunan Wisma Atlet, ternyata seorang Andi di duga tidak bisa menjalankan tugas atau di duga tidak mampu mengendalikan diri terhadap anak buahnya yang tidak menghargai posisi Andi sebagai atasannya

Hal ini terlihat ketika Andi Mallarangeng memberikan kesaksian dalam sidang pengadilan Tipikor kasus suap Wisma Atlet. Andi mengatakan tentang penetapan pemenang yang tidak di ketahui bahkan katanya tidak pernah melihat serta tidak di laporkan oleh sekretaris menpora yang notabene adalah bawahannya seputar surat penetapan pemenang lelang Wisma atlet itu. pengakuan kesaksian yang di katakan oleh seorang menteri selaku pengguna anggaran memang patut di pertanyakan ?

Padahal berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010, pasal 8 ayat 1 huruf a dan f angka 1, menjelaskan bahwa Pengguna Anggaran memiliki tugas dan kewenangan untuk menetapkan Rencana Umum Pengadaan dan menetapkan pemenang pada pelelangan atau penyedia pada penunjukan langsung untuk paket pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/jasa lainya dengan nilai di atas Rp 100.000.000.000,- (seratus miliar rupiah).

Kalau benar memang seorang Andi Mallarangeng sebagai Menteri atau pengguna Anggaran tidak mengetahui atau tidak di laporkan tentang sebuah kegiatan pekerjaan Barang dan Jasa Pemerintah dengan nilai yang sebenarnya dia punya kapasitas yang harus di ketahui pelaksanaannya, berarti menteri tersebut tidak punya rasa tanggung jawab terhadap tugas dan fungsi yang harus di lakukannya. Rasa tanggung jawab ini yang harus di pertanyakan, apalagi ternyata kegiatan tersebut telah menimbulkan masalah dan merugikan keuangan Negara.

Mengapa sosok pintar ini berubah menjadi seorang pelupa, tidak mengerti dan tidak mengetahui, ingat Mas Andi, kesaksian anda di sidang pengadilan tipikor di saksikan jutaan masyarakat Indonesia. mereka bukan masyarakat yang bodoh lagi, mereka sekarang sudah menjadi masyarakat yang kian kritis, mereka adalah masyarakat yang sudah punya pengalaman bagaimana rasanya kalau kita di bohongin. Sebagaimana anda juga dulu sering kritis mengamati tingkah pola penguasa Orde baru. Apakah demikian adanya bila orang sudah berada di dalam lingkaran kekuasaan dan ketika terjadi persoalan hukum yang melibatkan orang-orang di lingkaran kekuasaan, apakah harus sengaja menggunakan kepintarannya untuk berpura-pura tidak tahu alias pura-pura bodoh, hingga terlihat kebodohannya.

Masyarakat memang tidak bisa memaksakan kehendak agar anda dapat memberikan keterangan yang sejujur-jujurnya. Masyarakat hanya melihat berdasarkan fakta-fakta yang ada. hingga ada pemikiran sementara bahwa Andi Mallarangeng kan hanya sebagai saksi, tentu Andi Mallarangeng juga tidak ingin tersangkut kasus ini atau menyeret pihak lain, jadi wajar-wajar saja kalau Andi Mallarangeng bersikap seperti itu dalam kesaksiannya. Beranikah KPK mengambil tindakan tegas dengan memeriksa kembali Andi Mallarangeng terkait tanggungjawabnya selaku Pengguna Anggaran, bila KPK tidak berani melakukannya tentu Publik akan bertanda Tanya ? Tapi ingat bahwa segala apapun yang telah kita perbuat dalam hidup ini, baik atau jahat, benar, salah atau keliru, atau kekeliruan dan kesalahan yang di pertahankan tentunya semua nanti harus di pertanggungjawabkan di Pengadilan “TUHAN”.

Berita Terkait :