Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Tunanetra Indonesia dan Tunanetra Singapura

Desember tahun lalu Persatuan Tunanetra Indonesia ( Pertuni ) telah selesai mengadakan Rapat kerja Nasional, beberapa agenda yang di usung adalah berkaitan dengan persoalan ketunanetraan yang saat ini masih belum tertangani secara sistem, termasuk Keberadaan Undang-undang Konvensi tentang Hak-hak Penyandang Disabilitas yang telah di sahkan DPR beberapa waktu lalu juga belum terimplementasikan dengan baik.

Di samping itu ada juga ada diskriminasi dalam hal ketenagakerjaan yang masih menjadi persoalan bagi penyandang tunanetra di Indonesia. Masih banyak perusahaan yang tidak mau memperkerjakan penyandang tunanetra.

Agenda-agenda itulah yang di laporkan oleh jajaran pengurus Persatuan Tunanetra Indonesia ketika bertemu dengan wakil Presiden Boediono di Istana Wapres belum lama ini, gayung pun bersambut, wapres berjanji akan menyanggupi untuk mengadakan pertemuan secara rutin untuk menjawab persoalan-persoalan terkait ke tunanetraan.

Tunantera Indonesia adalah bagian dari masyarakat Indonesia, mereka juga punya hak yang sama untuk di perlakukan sebagai warganegara, bukan hanya oleh pemangku kebijakan saja tapi juga oleh masyarakat. Pemerintah seyogjanya bisa berperan lebih aktif, adil dan tidak diskriminasi, terutama menyediakan sarana dan prasarana bagi penyandang Tunanetra, termasuk juga kesadaran masyarakat untuk memberi tempat yang layak bagi mereka.

Kisah dibawah ini adalah salah satu pengalaman pribadi seorang Tunanetra ketika seorang tunanetra Indonesia pergi ke Singapura, bertemu dan berkenalan dengan tunanetra di sana.

Untuk menyenangkan teman barunya dari Indonesia, maka Tunanetra tersebut di ajak jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Wah di sini hebat ya…..kata Tunanetra Indonesia, soalnya aksesibilitasnya lengkap, kita ke mall aja bisa tahu jalan masuk dan keluar, soalnya ada kode di lantai sehingga bisa tahu jalan untuk keluar dari mall kata tunanetra Indonesia.

Kata temannya Tunanetra dari Singapura, oh ya ? bagaimana dengan di Indonesia, tanya yang dari Singapura ?, Tunanetra dari Indonesia pun menjawab, Wah…..kalau di Indonesia lebih hebat lagi, Tunanetra kalau masuk pusat perbelanjaan, masuk pagi…..malam hari baru keluar ! wah hebat dong banyak uangnya, kata Tunanetra dari singapura ?, oh….tidak ! karena kita tidak tahu jalan keluar. ” Kata Tunanetra dari Indonesia.

Cerita ini fakta bagaimana kesadaran untuk memberi tempat yang aman dan nyaman bagi para Tunanetra belum di lakukan secara baik di Indonesia, Mungkin bukan hanya Tunanetra saja yang sudah tidak nyaman, kita pun manusia yang normal, juga merasa sudah tidak nyaman di Indonesia ini ceritanya :

Naik Busway – Takut di Grepe
Naik Kereta Api – Takut di Copet
Naik Angkot – Takut di Perkosa
Jalan kaki pun masih – di Tabrak Xenia
Bahkan Ngesotpun – Masih ditendang oleh Satpam

Semoga kisah ini dapat menjadi bahan renungan untuk kita semua terutama tentunya kita berharap janji seorang Wapres Boediono yang akan menjawab persoalan-persoalan Tunanetra Indonesia dalam satu agenda pertemuan secara rutin, namun dengan catatan persoalan tersebut tetap harus di jawab bukan hanya dengan pertemuan-pertemuan rutin seremonial saja tapi juga harus di implementasikan dalam wujud nyata untuk lebih meningkatkan kepedulian dan dukungan secara nyata bagi Tunanetra Indonesia termasuk bagi kita yang normal-normal ini. Kita tunggu Actionnya……Pak Wakil Presiden