Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Pemabuk Menyelamatkan 1100 Orang Dari Kematian

Walaupun pernah di larang beredar oleh Pemerintah Orde Baru era tahun 1990 an, namun tetap saja banyak masyarakat yang mendapatkan film ini dari VCD bajakan. Larangan ini di sebabkan karena film ini menggambarkan kehidupan seorang anak manusia yang telah menyelamatkan 1100 orang yahudi dari ladang pembantaian, padahal film ini sebenarnya sarat dengan pesan kemanusiaan. Saya sendiri yang pernah menyaksikan film ini sempat teriris ketika melihat ratusan manusia telanjang bulat berlarian dan di suruh baris di lapangan untuk didata lalu dikirim ke kamp konsentrasi oleh tentara SS Nazi Jerman. Sampai sa’at ini film tersebut masih saya simpan di lemari.

Film yang berjudul “Schindler’s List” ini mengangkat kisah Warga Jerman yang juga seorang anggota Partai Nazi bernama Oskar Schindler, mengkisahkan tentang sebuah tragedi paling kelabu dalam gambaran kisah orang yahudi pada masa rezim Nazi Jerman. Film ini bercerita bagaimana Schindler menyelamatkan 1100 orang Yahudi. Suatu hal yang aneh menurut saya adalah, mengapa kegiatan kemanusian ini di lakukan justru oleh seorang pemabuk, tukang foya-foya dan bukan di lakukan oleh orang baik-baik. Judul filmnya merujuk kepada daftar nama dari 1100 orang Yahudi yang di pekerjakan Schindler di pabriknya sehingga tidak di kirim ke kamp-kamp konsentrasi, daftar nama itulah yang di sebut “Schindler’s List”.

Pada awalnya Oskar Schindler adalah seorang oportunis yang memanfaatkan perang untuk mengeruk keuntungan. Posisinya sebagai bisnisman adalah sebagai pemasok kebutuhan-kebutuhan tentara Nazi dalam masa perang itu. Bagaimana dia menciptakan uang melalui jalur-jalur KKN dengan para pegawai Nazi dan tentara SS. Dengan pemberlakuan hukum-hukum Nazi bahwa semua bisnis milik etnis Yahudi di bekukan, maka Oskar Schindler menggunakan kemampuannya dalam bernegosiasi dengan mantan pemilik pabrik Yahudi, kemudian mendapatkan izin usaha dari Rezim Nazi dengan cara kongkalikong dan sejenisnya. Maka dengan mudahnya Schindler memulai bisnisnya di masa perang itu. Pabrik-pabrik yang semula milik etnis Yahudi dalam sekejab menjadi milik Oskar Schindler.

Pada awalnya Schindler sangat di untungkan dengan sistem ini, Namun ketika dia melihat kekejaman perwira-perwira SS suara hatinya tergugah, Schindler menyaksikan pembantaian ini dari perbukitan, dan ia tampak sangat terpukul. Namun kini ia menghadapi masalah yang lebih mendesak tentang bagaimana menjalankan pabriknya tanpa buruh-buruhnya. Ia menemui seorang perwira SS bernama Amon Goth, berteman dengannya, dan meyakinkannya agar ia diizinkan mempertahankan buruh-buruhnya dengan ganjaran sogokan dan hadiah. Meski dengan berat hati, Schindler kini melindungi orang-orang yang kecakapannya sangat rendah di pabriknya. Jadi bisnisnya bukan lagi “profit motive”, malah Schindler bangkrut gara-gara ini.

Pabrik milik Schindler ini kemudian berubah fungsi dan menjadi lebih mirip seperti “Bahtera Nuh” sebagai tempat penyelamatan makhluk Tuhan. walaupun mereka hidup dengan makanan dan pakaian seadanya, bahkan harus bekerja siang malam sebagai pemasok logistik perang. Karena pabrik itu adalah tempat yang paling aman daripada di luar tembok pabrik yang bisa sewaktu-waktu membawa kaum Yahudi masuk ke dalam “Kereta Maut” yang memuat mereka ke kamp konsentrasi Auschwitz.

Mencermati film ini bagaimana Schindler mengubah dirinya menjadi seorang yang telah melakukan suatu hal sangat yang mulia. Schindler sudah terbiasa dengan kehidupan Pemabuk, tukang foya-foya, tukang KKN dan menggunakan keahliannya dalam memanipulasi hukum-hukum Nazi dengan “menyuap, memperdayai, mengakali elemen-elemen Nazi hanya untuk menyelamatkan nyawa  etnis Yahudi dengan dalih mereka akan di pekerjakan di dalam pabrik milik Schindler ini.

Akhir kisah film ini betapa kita di buat sentimental melihat Schindler yang tidak merasa puas bahwa dia sudah melakukan “penyelamatan” dan masih menangisi mobil Mercy-nya yang mestinya bisa berharga 10 nyawa lagi, dan menangisi pin-Nazi nya yang bisa berharga 1 nyawa. Akhirnya Schindler menjadi orang yang bener-bener tidak berharta, semuanya habis untuk membeli nyawa. Setelah Perang Dunia kedua, dia hidup berpindah-pindah dan kemudian menetap di Negara Argentina hidup sebagai seorang yang sederhana dengan “dead wish” jasadnya di makamkan di Yerusalem. Keinginannya ini terkabul dan orang-orang yang pernah di selamatkan Schindler “The Survivors” memberikan tanda penghormatan dengan menanam pohon yang di namai “Oskar Schindler”. teringat akan semboyannya “Barang siapa menyelamatkan satu nyawa, ia menyelamatkan seluruh dunia.”

Film ini memberi pelajaran bagi kita, sebuah kisah nyata perjalanan anak manusia yang berangkat dari dunia penuh dosa tapi mampu berbuat untuk menyelamatkan 1100 jiwa manusia tak berdosa. Betapa banyak dari kita mempunyai pemikiran dalam stigma-stigma buruk terhadap sesama kita yang mempunyai sejarah hitam. Sejahat apapun orang, tetap dia punya rasa kemanusian, saya menilai film ini dari sudut kemanusian saja, Sama saja ketika saya membaca kisah tentang kekejaman Stalin, Polpot, dsb. Mungkinkah ada sosok seperti Oskar Schindler masa kini di negara lainnya yang sedang perang saudara atau perang antar etnis, atau yang lebih nyata lagi, ada kah seorang Oskar Schindler ketika terjadi pembantaian massal pasca Gestapu tahun 1965.

Berita Lainnya :