Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

KPK Banci Beraninya Sama Janda

Masyarakat masih berharap KPK mampu berada di barisan paling depan dan menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi di Indonesia, apalagi pimpinan KPK baru saja terbentuk, wajah-wajah baru inilah yang di harapkan mampu menjawab keinginan masyarakat tersebut. tidak ada lagi istilah tebang pilih atau tidak tegas dalam mengambil satu tindakan, harapan seperti ini merupakan tuntutan kekecewaan masyarakat yang selama ini sudah mulai jenuh dengan kegamangan KPK dalam memberantas Korupsi. KPK juga di tuntut harus berani memberantas kasus Korupsi bukan hanya berskala kecil tapi juga harus berani membongkar kasus korupsi di lingkaran kekuasaan.

Sebelumnya KPK pernah di kritik habis karena begitu lamban untuk mengambil keputusan, misalkan kasus cek pelawat, mengambil istilah hukum, penyuap dan yang menerima suap adalah tindakan pidana, jargon ini pernah di pakai oleh pihak kepolisian dalam bentuk spanduk-spanduk yang di pasang di perempatan jalan, tujuannya untuk memperbaiki tindakan oknum-oknum polisi yang sering menerima suap di jalan raya terkait pelanggaran lalu lintas, agar tidak menerima suap dari si pelanggar lalu lintas. Dalam konteks ini sudah jelas bahwa penyuap dan yang menerima suap adalah tindakan pidana, mengapa kasus cek pelawat ini hanya penerima suapnya saja yang sudah di kandangkan, lalu mengapa aktor utama dalang ini belum di kandangkan juga ? apakah KPK sama dengan pendapat Nunun, yang tidak tahu uang itu dari siapa dan darimana sehingga sulit untuk mencari aktornya ?

Setelah memakan waktu cukup lama dan terkatung-katung, sampai penerima suapnya saja sudah ada yang bebas menghirup udara segar, pimpinan KPK yang baru akhirnya telah menetapkan aktor di balik kasus ini sebagai tersangka, langkah pertama yang baik di lakukan oleh pimpinan KPK yang baru, namun penetapan tersangka ini belum mampu memenuhi harapan publik, karena yang bersangkutan hingga kini belum di lakukan penahanan, Miranda pernah mengatakan saya maunya tidak di tahan, pernyataan ini mengesankan begitu kuatnya seorang Miranda, hal ini di buktikan dengan enggannya KPK melakukan Penahanan. maka dengan tidak di tahannya Miranda, KPK bisa di nilai oleh publik sebagai Banci.

Setelah mendapat tekanan dari publik akhirnya Miranda jadi juga ditahan dan sudah di vonis oleh majelis hakim dengan hukuman tiga tahun, mendapat putusan ini Miranda akhirnya melakukan upaya banding karena dianggap putusan ini seperti zamannya empu gandring, berhasilkah upaya banding Miranda atau tidak menutup kemungkinan justru hukumannya jadi bertambah berat ?

Tapi tugas belum selesai, masih banyak kasus yang belum terselesaikan dengan baik, misalkan kasus suap wisma atlet, cuap-cuap nazarudin di persidangan belum ada tindakan konkret dari KPK, padahal fakta di persidangan nazarudin sering menyebut-nyebut bahwa Anas Urbaningrum ikut terlibat ‘memenangkan’ PT Adhi Karya dalam proyek pembangunan pusat latihan olahraga Hambalang Jawa Barat ? Menurut Nazaruddin, BUMN tersebut sanggup memberikan Rp100 miliar untuk membantu Kongres Partai pemenang Pemilu 2009 lalu yang di laksanakan di Bandung. entah itu dusta atau kebenaran yang jelas Nazarudin menyampaikan tentang keterlibatan Anas pada Proyek Hambalang di depan sidang pengadilan dan mempunyai nilai yang sangat lebih di banding dengan bantahan-bantahan Anas melalui media ? dalam kasus wisma atlet ini, pimpinan KPK yang baru telah menetapkan tersangka baru yaitu Angelina Sondhak anggota DPR dari Partai Demokrat yang juga seorang Janda.

Publik masih menunggu, KPK memang telah menahan Angelina Sondakh dan saat ini sedang masuk proses persidangan, Selanjutnya beranikah KPK menindak lanjuti pernyataan Nazarudin di persidangan untuk memanggil dan memeriksa Anas, apalagi pernah ada cuap-cuap dari sesama kader demokrat bernama Diana Maringka mantan ketua DPC Minahasa Tenggara, Diana mengatakan bahwa dirinya menerima 100 juta rupiah di kongres partai Demokrat di banding tahun 2010.

Diana pun mengaku akan mengembalikan semua hak Negara itu kepada KPK jika KPK memintanya, Diana minta maaf kalau waktu itu dia tidak tahu kalau uang itu hasil Korupsi Wisma Atlet. Pernyataan Diana ini jelas membuat geger dunia politik di tanah Air, lalu beranikah KPK menindak lanjuti pernyataan Diana yang siap mengembalikan uang tersebut kepada KPK, kita tunggu saja action berikutnya dari KPK. akan kah nasib Diana justru akan sama dengan Agus Condro yang pernah membongkar kasus cek pelawat, hingga akhirnya Agus Condro juga menjadi pesakitan ?

Harapan demi harapan untuk mengungkap kasus masih terpundak pada KPK, masyarakat ingin KPK harus tegas dan berani melakukan tindakan, tidak pandang bulu dan tebang pilih, tanpa berani melakukan tindakan apapun pada pihak yang telah di sebutkan oleh Nazarudin dalam persidangan maupun pernyataan Diana terkait menerima uang ketika Kongres Partai Demokrat di bandung 2010.

Benar, salah atau keliru pernyataan mereka memang harus di buktikan oleh KPK. jangan sampai ada stigma baru di masyarakat, KPK hanya berani menetapkan seorang Janda bernama Angelina Sondhak. walaupun salah atau tidaknya seorang Angelina Sondakh maupun yang lainnya, Pengadilanlah yang akhirnya akan memutuskannya.

Berita Lainnya  :
Wanita Makan Dana Haram
Menikah Dengan Pelacur Atau Koruptor
Miranda Gultom Marah Sama Brondong
Gigolo Muda dan Wanita Malam Pulau Batam
Anggota KPK Terjaring Satpol PP Kota Depok