Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Dibawah Bayangan Pohon Beringin

Indonesia punya pepatah popular “dibawah pohon beringin tidak ada pohon subur yang bisa tumbuh“ kata tersebut mengandung makna yang sangat dalam terhadap kondisi Indonesia saat ini, seperti di ibaratkan pada para Pimpinan Politik dan Birokrat Indonesia yang tukang berantem, tukang korupsi, tukang Bohong, tukang peras dan tukang-tukang yang lain seperti tumbuh di bawah bayangan pohon beringin, namun tak seorang pun luput dari pengaruh Korup sehingga menghambat pertumbuhan itu. Kondisi seperti itulah yang menjadi penyebab mengapa Indonesia sampai hari ini tetap tidak berubah.

Negeri dimana para Pimpinan Politiknya sudah tidak punya rasa malu lagi dengan mempertontonkan kebohongan-kebohongan nyata di depan publik demi untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya, lihat saja beberapa kasus korupsi yang terungkap, baik yang sudah di selesaikan secara hukum maupun kasus korupsi yang masih mengambang tidak jelas penyelesaiannya, kapan akan segera berakhir ?

Belum lagi perilaku para Birokrat Indonesia yang kondisinya setali tiga uang alias sama saja tetap tidak berubah. mungkin kalau boleh kita merenung sejenak tentang perjalanan tingkah laku para Birokrat Indonesia selama ini, tentu kita semua akan menahan nafas dan mengurut dada terutama berkaitan dengan proses Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, sampai ada istilah “Birokrat Indonesia Hamil sebelum Nikah“. Apalagi mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas pernah mengatakan Pengadaan Barang dan Jasa merupakan sektor yang paling banyak terjadinya Korupsi,

Belum lagi cerita lain yang lebih mengejutkan, terkait dengan pernyataan jujur Presiden SBY yang kecewa terhadap banyaknya Komitmen Investasi namun yang terealisasi hanya sedikit ? atas beberapa kegagalan itu, Presiden SBY juga mengkritik perilaku Pemerintah Daerah yang kadang tidak kompak dengan rencana pembangunan ? Mengapa Komitmen Investasi bisa gagal ? Padahal selama ini, Pemerintah selalu mengklaim bahwa investasi baru tumbuh baik dari luar dan dalam negeri. Namun kenyataan yang terjadi, komitmen investasi yang di lakukan Investor luar negeri dan dalam negeri kepada pemerintah hanyalah janji palsu.

Mungkin tidak terealisasinya komitmen investasi yang dijanjikan pada Indonesia disebabkan banyaknya biaya siluman yang timbul pada saat akan memulai investasi.“Terlalu banyaknya pungli dan pemerasan yang dilakukan oleh pejabat dan aparat hukum serta ormas ormas ketika investor ingin melakukan investasi di Indonesia. Pernyataan jujur Presiden SBY sepatutnya mendapat apresiasi yang baik dari semua pihak.

Penegakan hukum pun sama saja, banyak kasus penegakan hukum yang tidak memenuhi unsur keadilan, kasus prita, kasus sandal jepit dan banyak lagi kasus yang lain, terutama kasus yang selalu menimpa rakyat kecil dan ini bertolak 180 derajat terhadap kasus-kasus besar yang tertangani atau tidak tertangani, hukuman yang diberikan tidak sebanding dengan hukuman yang telah diberikan pada kasus-kasus kecil diatas. Ada apa dengan penegakan hukum kita ? jawabannya kekuasaan dan kebutuhan materi pangkal penyebabnya.

Begitu banyak yang bisa di sampaikan di tulisan ini namun potret kecil diatas saya rasa sudah cukup untuk menjawab kondisi riil Indonesia sebenarnya, berpijak pada pepatah walaupun kita tidak bisa tumbuh di sekitar pohon beringin masih banyak yang bisa di lakukan dan dibutuhkan oleh Indonesia saat ini agar bisa tumbuh dan menjadi bangsa yang besar yaitu "Persatuan dan Kesatuan Untuk Menumpas Keserakahan"