Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Beranikah Anas dengan Uya Kuya

Demi Allah, tidak pernah. Saya berani sumpah pocong, saya tidak pernah minta 13 persen. Bahkan untuk masalah Sea Games itu di bawa ke rapat pleno Komisi. Saya jalankan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi saya. Semua keputusan diambil bersama dan notulensi rapat yang jelas’, jawab Angie tegas. Pernyataan berani melakukan sumpah pocong ini terkait wawancara Angelina dengan wartawan tempo melalui telpon ketika Angie panggilan akrabnya sedang berada di negeri belanda.

Pernyataan berani melakukan sumpah pocong ini tentu patut di pertanyakan kembali ? apakah itu bentuk pengakuan yang jujur dari seorang Angie atau sebuah bentuk sikap untuk menciptakan opini bahwa Angie tidak bersalah. Lalu faktanya Angie sekarang sudah di tetapkan oleh KPK sebagai tersangka kasus suap wisma atlet, walaupun pembuktian Angie bersalah atau tidak, pengadilan lah yang nanti memutuskannya.

Kalau seorang Angie yang sebelumnya pernah menyatakan berani Sumpah Pocong dan sudah di nyatakan sebagai tersangka, lalu bagaimana dengan Anas Urbaningrum yang sering di sebut-sebut juga oleh Nazaruddin ikut terlibat ‘memenangkan’ PT Adhi Karya dalam proyek pembangunan pusat latihan olahraga Hambalang Jawa Barat ? Menurut Nazaruddin, BUMN tersebut sanggup memberikan Rp100 miliar untuk membantu Kongres Partai pemenang Pemilu 2009 lalu yang di laksanakan di Bandung.

Berani karena benar, takut karena salah, entah itu dusta atau kebenaran yang jelas Nazarudin menyampaikan tentang keterlibatan Anas pada Proyek Hambalang di depan sidang pengadilan dan mempunyai nilai yang sangat lebih di banding dengan bantahan-bantahan Anas melalui media. Beranikah Anas melakukan sama seperti apa yang sudah di lakukan oleh Angie ? tidak usah pake Sumpah Pocong, gunakan saja jasa Uya Kuya untuk interview dan di siarkan secara live ke semua stasiun TV, tapi dengan syarat jangan intervensi terhadap Uya Kuya.

Mengapa mesti mempergunakan jasa Uya Kuya, karena penggunaan hipnotis sebagai sarana menguak kejahatan bisa digunakan untuk wasilah (perantara) mencari bukti-bukti awal dalam penelusuran kasus kejahatan. Bahkan, menurut Madzab Maliki bisa digunakan untuk mencari qorinah (acuan) yang menguatkan dugaan sebagai alat penetapan hukum. Apalagi Uya Kuya menggunakan ilmu hipnotis modern, dengan teknik menggunakan kekuatan psikologi dan eksplorasi kemampuan diri manusia. Teknik termodern ini lah yang dipakai Uya dan tidak menyalahi hukum agama. “Secara teknik hipnotis yang di pakai, Uya menggunakan kekuatan psikologis.

Kalau Anas tidak mau dan tidak berani melakukannya, lalu sampai kapan Anas mampu bertahan dan tidak tersentuh oleh hukum, seharusnya nama-nama yang sudah di sebutkan oleh Nazarudin di periksa dulu oleh aparat hukum, betul atau tidak harus di buktikan di depan hukum, supaya azas praduka tak bersalah dapat di buktikan serta jika terbukti Anas tidak bersalah tetap harus di bersihkan nama baiknya. Berani karena benar, takut karena salah seperti apa yang sudah di lakukan oleh Nazarudin dalam pernyataannya tentang Anas. 

Berita lainnya :