Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Survei membuktikan, isu bisa menyesatkan

Mereka yang terampil dalam limu perang selalu akan membawa musuh ketempat di mana mereka akan bertempur dan tidak di bawa kesana oleh musuhnya.

Beberapa elit partai sekarang ini sedang mempersiapkan strategi Political Marketing (Pemasaran Politik) dalam rangka menarik kembali simpati masyarakat terhadap program-program yang ingin di jualnya pada pemilu 2014 nanti.

Strategi Marketing ini mutlak di lakukan, mengingat Partai Politik itu sama saja dengan Permen, Sabun, Pasta gigi sama-sama butuh citra, strategi penjualan dan promosi iklan, targetnya orang harus di rangsang supaya tertarik dan kemudian beramai-ramai mendukungnya. Lebih-lebih bila itu menyangkut partai yang sudah buruk citranya.

Salah satu strategi Political Marketing yang di lakukan adalah melalui polling pendapat, memang bila kita melihat dari perspektif political marketing, penyiaran hasil jajak pendapat yang terus menerus di lakukan oleh lembaga Survei dan di publikasikan ke masyarakat ternyata mempunyai dampak nyata yang signifikan, apalagi bila strategi melalui polling pendapat ini di lakukan melalui sebuah rekayasa secara sistematis sehingga kemungkinan besar Partai yang sudah buruk citranya di masa lalu mendadak bisa menjadi partai yang mendapat simpati dari masyarakat.

Sebelum kita masuk dalam konteks Polling pendapat yang akan di jelaskan lebih jauh setelah cerita di bawah ini, mungkin cerita ini bisa menjadi gambaran tentang keinginan untuk kembali ke masa silam tapi tidak mendapat dukungan dari masyarakat yang mulai cerdas untuk memberikan pilihannya bagi masa depan yang lebih baik :

Ketika Bob Dole menantang Presiden Bill Clinton pada pemilihan presiden Amerika thaun 1996, Faktor usia memang sudah di sadari oleh Bob Dole menjadi titik kelemahannya, akan tetapi beberapa penasehat kampanye Bob Dole justru menganggap dan melihat peluang dari masalah ini, mereka yakin bahwa masyarakat pemilih menginginkan seorang kandidat Presiden yang matang dan berpengalaman.

Dalam satu kampanye, Bob Dole menyampaikan Pidato Politiknya yang berjudul Age has its advantage, yang antara lain menekankan bahwa usia merupakan keuntungan “ Perkenakan saya menjadi jembatan ke sebuah Amerika yang di sebut mitos oleh orang-orang yang tidak tahu, biarkan saya menjadi jembatan kepada masa kesentosaan, kepercayaan dan keyakinan dalam tindakan. Dan bagi orang-orang yang mengatakan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi lagi, bahwa Amerika tidak pernah lebih baik, saya katakan anda salah dan saya tahu, karena saya ada di sana di masa silam dan saya masih ingat”.

Presiden Bill Clinton pun menyampaikan pidato tanggapan. “Saya mencintai dan takzim akan sejarah Amerika yang kaya dan membanggakan, dan saya bertekad untuk membawa tradisi-tradisi terbaik kita di masa depan, tetapi dengan segala respek, kita tidak perlu membangun Jembatan ke masa silam, kita perlu membangun jembatan ke masa depan dan itulah komitmen saya kepada anda untuk di laksanakan. Jadi mari lah kita memantapkan hati untuk membangun sebuah jembatan ke abad 21, untuk menghadapi tantangan dan melindungi nilai-nilai kita.

Kesimpulannya Bill Clinton ingin mengambil keuntungan dari pidato Bob Dole dengan membangun citra bahwa Clinton adalah pemimpin yang mempersiapkan bangsa Amerika memasuki abad 21. Bob Dole membangun jembatan kemasa silam sedangkan Clinton membangun jembatan ke masa depan. Sejarah kemudian mencatat bahwa rakyat Amerika lebih cerdas untuk menentukan pilihannya sehingga Clinton berhasil mengalahkan si jago tua Bob Dole.

Terkait dengan Polling Pendapat, belum lama ini ada sesuatu yang sangat mengejutkan, sebuah lembaga Survei Nasional Indo Barometer telah mengumumkan hasil survei yang bertajuk” Evaluasi 13 Tahun Reformasi dan 18 Bulan Pemerintahan SBY-Budiono. kegiatan survei tersebut di laksanakan pada 25 April 2011-4 Mei 2011 di 33 Propinsi di seluruh Indonesia dan melibatkan 1200 responden. dalam survei itu Indo Barometer menggali persepsi presiden yang paling di suka dan paling berhasil di negeri ini.

Satu hal yang sangat menarik dan menimbulkan sikap pro dan kontra sehingga banyak mengundang tanggapan terkait dengan hasil survei yang menyatakan bahwa kondisi saiat Orde Baru dibawah Pemerintahan Soeharto lebih baik (40.9%) dari pada kondisi di masa Reformasi (22.8%) dan kondisi di masa Orde Lama di bawah Pemerintahan Soekarno (3.3%).

Namun ada yang lebih menarik dari hasil survei adalah mengenai Presiden yang paling di sukai masyarakat dan hasil survei tersebut memperlihatkan bahwa Soeharto merupakan Presiden yang paling di sukai masyarakat (36.5%), SBY (20.9%), Soekarno (9.8%), Megawati (9.2%), Habibie (4.4%) dan Gus Dur (4.3%) selain dari pada itu Soeharto juga dinilai oleh masyarakat sebagai Presiden yang paling berhasil (40.5%), SBY (21.9%), Soekarno (8.9%), Megawati (6.9%), Habibie (2.0%) dan Gus Dur (1.8%).

Mari kita coba analisa tentang hasil survei yang sangat mengejutkan publik ini : 

Pertama : Indo Barometer telah membiarkan responden berusia muda yang tidak mengalami Orde Lama dan hanya sebentar mengalami Orde baru turut serta memberikan pendapat tentang kondisi kedua Orde tersebut, sehingga secara logika bagaimana mungkin responden ketika di tanya tentang kondisi Orde Lama dan Orde Baru kalau mereka sama sekali tidak mengalaminya atau hanya mengalaminya sebentar apalagi terkait faktor sejarah yang banyak di manipulasi.

Kedua : Banyaknya responden yang menjawab tidak tahu atau tidak menjawab pertanyaan yang diajukan, sebagai contoh pada bagian survei yang menanyakan tentang Orde yang lebih baik diantara pilihan Orde lama, Orde Baru atau Orde Reformasi, terdapat 22.1% Responden yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab, bahkan pada bagian survei yang menanyakan tentang apa yang di maksud dengan Reformasi, Responden yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab, adalah 29.6%, yang jelas dalam konteks survei ini, apapun alasan responden, semakin banyak dari mereka yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab atas pertanyaan yang di ajukan maka akan semakin berkurang nilai manfaat dari survei tersebut.

Ketiga : sama seperti di point kedua, banyaknya responden yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab pada pertanyaan sejak tahun berapa Reformasi di mulai, terdapat 47.8% yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab, sedangkan yang menjawab tahun 1998 sebanyak 34.8%, dan yang menjawab salah bisa di akumulasikan ke yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab sehingga menjadi 65.2%, Jarak 13 tahun bukan lah waktu yang lama untuk masyarakat mengingat suatu peristiwa, sehingga kecenderungan banyaknya masyarakat yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab sejak kapan reformasi di mulai menimbulkan persepsi bahwa masyarakat memang tidak tahu kondisi riil yang sebenarnya atau memang bersikap masa bodoh sehingga terkesan jawaban-jawaban selanjutnya dari pertanyaan survei di jawab asal-asalan atau sangat kontradiktif dalam menjawab di setiap pertanyaan survei.

Keempat : Penjelasan pilihan Orde berdasarkan pemilih Partai Politik, menjelaskan bahwa mayoritas pemilih dari sembilan Parpol yang ada di DPR menyatakan Orde Baru lebih baik kecuali Partai Demokrat dan Partai Amanah Nasional yang menyatakan Orde Reformasi lebih baik, kalau pemilih PAN sudah tentu akan menjawab Orde Reformasi yang terbaik karena pendiri PAN adalah Tokoh Reformasi, yang aneh adalah pemilih dari PDI Perjuangan, mengapa mereka justru menganggap Orde Baru lebih baik dari Orde Lama, padahal publik banyak tahu kalau kecenderungan masyarakat memilih PDI Perjuangan karena hubungan historis antara PDI Perjuangan dengan PNI di zaman Soekarno, masyarakat pemilih PDI Perjuangan melihat faktor Megawati sebagai anak Soekarno sehingga secara logika bagaimana mereka bisa menganggap Orde Baru lebih baik dari pada Orde Lama.

Selain analisa di atas bahwa faktor-faktor ekonomi, pendidikan dan kesadaran sebagai sebuah bangsa yang paham akan sejarahnya sendiri telah di hilangkan sebelumnya oleh suatu rezim yang pernah berkuasa dan juga bagaimana buku-buku sejarah telah banyak mengalami penyimpangan menurut kehendak dan rekayasa penguasa sebelumnya serta masyarakat juga telah di bentuk sedemikian rupa persepsi dan pikirannya, dan juga faktor Perkembangan sosial dan ekonomi yang terjadi sekarang ini dapat mengacaukan pemikiran masyarakat ketika mereka sedang terbuai harapan akan adanya perubahan dan faktor cita-cita yang belum tercapai serta keinginan yang serba instan kadang membuat masyarakat telah melupakan ingat-ingatannya sendiri apalagi kalau sudah bicara tentang rasa lapar dan susah dapat mengaburkan ingatan-ingatan buruk di masa lalu. sehingga jangan heran dan bersedih bila melihat hasil survei tersebut.

Berbagai survei di satu sisi memang sering kali menghasilkan temuan-temuan yang menarik dan bermanfaat tetapi di sisi lain kita juga sering menemukan survei-survei yang hasilnya membingungkan dan bahkan dapat menimbulkan isu yang menyesatkan kita, contoh kasus hasil survei yang membingungkan karena bertolak belakang dengan kenyataan ketika pernyataan Ditjen Otda Kemendagri yang mengatakan pihaknya mempunyai data survei 71% masyarakat Yogjakarta menginginkan Gubernur-Wagub DIY di pilih langsung. faktanya masyarakat Yogja masih tetap berkeinginan penetapan Gubernur-Wagub Yogja melekat pada Sultan. sehingga hasil survei yang di lakukan dan katanya datanya ada pada Ditjen Otda Kemendagri menjadi bias tak berguna.

Apakah Hasil survei Indo Barometer murni tanpa adanya dugaan unsur rekayasa tertentu atau bagian dari dugaan strategi Political Marketing pihak tertentu atau bisa juga adanya kelalaian yang tidak di sengaja. Hal ini tentunya harus kita kaji bersama-sama dalam perspektif keabsahan sebuah survei. Semoga info ini berguna, terima kasih atas segala sumbang sarannya.

Berita Lainnya
* Orde Baru Berdiri Di atas Tumpukan Tengkorak
Bangkitlah Menuju Indonesia Yang Berdaulat
Soeharto Pernah Ditampar Atasannya