Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Sekda tidak mau dipanggil Pak Walikota


Beredar desas-desus kalau Ibu Ety Suryahati selaku Sekretaris Daerah Kota Depok tidak mau dipanggil Pak Nurmahmudi selaku Walikota Depok ? Lalu ada apakah gerangan, Apakah telah terjadi keretakan diantara keduanya ? Wah......kalau ini benar-benar terjadi, bisa berbahaya dan akan mengganggu Kinerja Birokrasi yang lain.

Karena Jabatan Sekda atau Sekretaris Daerah adalah motor penggerak Organisasi Perangkat Daerah. Sekda juga adalah jabatan tertinggi dalam struktur Organisasi di Pemerintahan Daerah, beda dengan Jabatan Walikota atau Wakil Walikota yang merupakan Jabatan Politis.

Sebelum keadaan menjadi runyam dan akan berdampak lebih buruk lagi bagi jalannya roda pembangunan di Kota Depok, maka untuk mengusik rasa penasaran dengan adanya desas-desus tersebut, saya mencoba mengklarifikasi langsung kepada ibu Sekda, yang kebetulan saya cukup dekat dengannya ketika beliau masih menjabat sebagai Kepala Bagian Kepegawaian Kota Depok.

Akhirnya setelah saya telpon minta waktu untuk bertemu, Ibu Sekda menerima saya tepat setelah makan siang dan bertemu di ruangannya secara pribadi. inilah percakapannya antara saya dan Ibu Sekda :

Maaf......ibu, apakah benar Ibu Ety tidak mau di panggil Pak Nurmahmudi ? Benar Pak Agus jawab Ibu Sekda ? Loh......memang kenapa Ibu Ety tidak mau di panggil Pak Nurmahmudi, kembali aku bertanya ? ya...jelas lah Pak Agus saya tidak mau di panggil Pak Nurmahmudi !! Sebab....pertama saya adalah seorang Ibu jadi tidak mau di panggil Pak, Kedua bahwasanya nama saya Ety Suryahati bukan Nurmahmudi.....jadi saya maunya dipanggil Ibu Ety bukan dipanggil Pak Nurmahmudi.

Saya yang mendengar penjelasan Ibu Sekda hanya bengong aja ? benar juga ya kalau Ibu Ety tidak mau di panggil Pak Nurmahmudi. memang iseng aja tuh orang yang bikin desas-desus dalam hatiku ?

Setelah ngobrol kesana-kemari, saya pun pamit kepada Ibu Sekda dan berjanji akan mengklarifikasi desas-desus ini di postingan blog saya serta akan dipublikasikan ke masyarakat umum, bahwa ternyata itu hanya isu yang di buat oleh orang-orang yang tidak suka terhadap jalannya roda pembangunan di Kota Depok.