Iklan Layanan Padepokan Tumaritis

Iklan Layanan Padepokan Tumaritis

"ORDE BARU" Berdiri Di Atas Tumpukan Tengkorak dan Tulang Belulang

Lim Joey Thay adalah tokoh penting. Sangat penting, bahkan. Dia adalah satu dari segelintir orang yang berada di titik paling menentukan dalam sejarah negara ini setelah Proklamasi 1945. Lim Joey Thay atau Dikenal dengan nama dr. Arief Budianto yang ketika itu adalah lektor Ilmu Kedokteran Kehakiman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) merupakan satu dari lima ahli forensik yang berdasarkan perintah Soeharto memeriksa kondisi ketujuh mayat tersebut sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, siang hari 5 Oktober.

Dalam pengakuannya dr. Lim Joey Thay bercerita tentang alat kelamin Pahlawan Revolusi yang disilet apalagi dipotong dan ditelan juga cerita tentang mata mereka yang dicungkil adalah bohong belaka. Sayangnya, kebohongan ini sudah kadung dianggap sebagai fakta sejarah dan diajarkan di sekolah-sekolah. Ketujuh pahlawan revolusi itu jelas mati dibunuh. Dan pembunuhan dengan cara apapun jelas di luar nilai-nilai kemanusiaan. Namun dari hasil otopsi yang dilakukan dr. Lim Joey Thay dan teman-temannya sama sekali tidak menemukan tanda-tanda pencungkilan bola mata, atau apalagi, pemotongan alat kelamin seperti yang dilaporkan media massa yang dikuasai Aparat.

Visum et repertum jenazah Pahlawan Revolusi ini jelas bukan barang baru. Benedict Anderson dari Cornell University telah menyalin ulang visum et repertum itu dalam artikelnya, How Did the Generals Die ? di jurnal Indonesia edisi April 1987. Artikel Ben Anderson ini membuat pemerintahan Soeharto marah besar, dan sejak itu Ben Anderson diharamkan menginjakkan kaki di Indonesia.

Cerita-cerita mengenai alat kelamin yang disayat, dipotong dan dimakan telah membangkitkan amarah di akar rumput. Cerita-cerita imajinatif ini, menurut Ben Anderson dalam artikelnya yang lain, Indonesian Nationalism Today and in the Future (1999), sengaja disebarkan oleh pihak militer. Ia bagian dari dalih untuk melakukan pembantaian massal, Dan ia bagai minyak tanah yang disiramkan ke api. Menyambar-nyambar. Selanjutnya, yang terjadi adalah pembantaian besar-besaran di mana-mana terhadap anggota PKI dan/atau siapa saja yang dituduh menjadi anggota PKI dan/atau memiliki relasi dengan PKI.

Benedict Anderson, menggarisbawahi bagaimana dan dengan maksud apa berita pemotongan alat kelamin itu disebarkan. Propaganda pihak militer ini, yakin Ben Anderson, Hal ini dilakukan untuk menciptakan atmosfer histeria di seluruh Indonesia yang telah mendorong pembantaian lebih dari setengah juta orang dengan cara paling mengerikan, tanpa melalui proses pengadilan. Tidak keliru bila ada yang menyebut bahwa pemerintahan Orde Baru didirikan di atas tumpukan tengkorak dan tulang belulang, demikian kata Ben Anderson.

Laporan The Econimist London, berdasarkan informasi ilmuwan Indonesia, mengemukakan bahwa 100.000 orang tewas hanya dalam hitungan bulan Desember 1965 hingga Februari 1966. Menurut Komisi Pencari Fakta yang dibentuk setelah peristiwa berdarah itu, jumlah korban hanya 78.000 orang. Tapi, Oei Tjoe Tat menteri negara jaman Bung Karno yang menjadi ketua tim, justru meragukan penemuan itu. Dalam perjalanannya melakukan penyelidikan ia justru dihambat oleh aparat militer setempat. Ia menyebutkan angka itu terlalu dikecilkan. Dengan menyindir ia menyebut bukan 78.000 tapi 780.000.

Dalam memoarnya, Oei Tjoa Tat menceritakan perjalanannya ke Bali, justru tidak bisa mendapatkan akses kemana mana, karena di karantina di hotel, akhirnya dia bisa di selundupkan suatu malam, dengan melewati dapur untk bertemu sumber sumber penyelidikan. Dari situ ia bisa mengetahui pembunuhan yang terjadi terhadap I Gede Puger, Ketua PKI Bali yang bertubuh gemuk. Tubuhnya dipotong potong, sehingga daging lemaknya terburai sebelum akhirnya kepala di tembak. Tidak hanya dia yang dibunuh, juga seluruh anak istrinya. Bahkan Gubernur Bali, Anak Agung Bagus Suteja yang berafiliasi pada PKI, hilang tanpa bekas. Kelak Oei Tjoe Tat ditahan rezim orde baru karena dianggap sebagai orangnya Soekarno.

Pembunuhan besar-besaran hingga menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit diperkirakan berdasarkan versi Kopkamtib, Lembaga bentukan Orde Baru yang sangat berkuasa dan dapat menentukan mati hidupnya seseorang, dalam laporannya menyebutkan angka hampir sebesar 1 juta orang dengan rincian 800.000 korban di Jawa dan 100.000 korban di Bali dan Sumatera. besarnya angka itu juga menunjukan adanya praktek Genosida yakni menghilangkan kelompok tertentu. Jika Pol Pot melakukan pembantaian massal pada rakyat Kamboja butuh waktu beberapa tahun untuk menghilangkan Kelas Borjuis dan Intelektual, namun di Indonesia mereka melakukan Pembantaian hanya dalam hitungan bulan.

Bagaimana kita mesti menjelaskan terhadap ratusan ribu rakyat di bantai dalam pesta pora di lautan darah rakyat tak berdosa, banyak diantara mereka puluhan ribu guru yang hilang dari sekolah-sekolah dalam periode tersebut, mereka tak tahu apa-apa tentang politik, sehingga bergabung dengan gerakan sempalan PGRI non vaksentral yang memberi semboyan ” Jika Guru Lapar Mereka Tak Bisa Mengajar ” sejumlah data menyebut angka 30.000 ribu sampai 92.000 ribu guru dibunuh. Banyak orang yang tidak tahu apa apa harus ikut membayar nyawanya karena amuk massa. Kerabat, tetangga, bayi bayi yang tak berdosa. Bagaimana kita menjelaskan fenomena ribuan orang orang Bali yang pasrah, lalu berpakaian putih putih berjalan menuju tempat penjagalan, serta berdiam diri menunggu datangnya algojo.

Terkait dengan peritiwa G30S, pada kenyataannya ketika gerakan itu dicetuskan tidak ada PKI-nya. Orang dipaksa untuk mengatakan itu PKI, Hanya setelah Soeharto menang barulah di sebutkan otaknya PKI. Ditambahlah istilah itu menjadi G30S/PKI, kata PKI itu dicantumkan berdasar atas penemuan-penemuan dari mereka yang menang. Saat itulah baru dikatakan gerakan ini harus dberitahu kepada masyarakat bahwa yang melakukan adalah PKI. Jadi perlu ditambahkan kata PKI di belakang G30S. Penambahan kata PKI dilakukan oleh Orde Baru di bawah pimpinan Suharto-Nasution ketika itu.

Mari Bicara Kebenaran

Generasi muda Indonesia sebagai pemegang tongkat estafet perjalanan bangsa hari ini harus mulai “peduli” dengan sejarah setidaknya sebagaimana saya sampaikan sebelumnya untuk dijadikan alasan mencintai dan hidup mati-matian membela bangsa dan Negara ini. Generasi muda hari ini harus mulai mendekatkan diri dengan kebenaran yang bila tidak disajikan secara logis harus ditelusuri keberadaannya

Dengan belajar memahami sejarah, kita mengenal bangsa sendiri. Sejarah adalah cermin. Sehingga kita bisa bercermin tentang siapa diri kita sebenarnya. Tentu saja berharap kita bukan bangsa pendendam Sejarah konon adalah milik penguasa atau dalam istilah popular di masyarakat “sejarah adalah milik pemenang”.

Begitu juga setiap perjuangan ide dan paham di sepanjang kehidupan manusia selama ratusan atau bahkan ribuan tahun, sejarah pula yang nanti akan mencatat, menghakimi dan menjawabnya. kini semakin nyata di depan mata siapakah yang benar-benar bercita-cita keras dalam mengangkat nasib rakyat ketarap hidup yang lebih baik, kini sejarah pula yang menghakimi siapa pendukung siapa, siapa pengacau siapa dan dalam kenyataan yang lebih tegas, siapakah yang layak di sebut patriot dan siapakah yang pantas di sebut pengkhianat ? dan layak kah mereka yang dulu pernah berpesta pora menjadi seorang “PATRIOT”, sejarah pula nanti yang akan membuktikan bahwa mereka memang tidak layak menjadi “PAHLAWAN”

Berita lainnya :