Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Apa Kabar Kaum Nasionalis

Pemerintah, elite, tokoh, serta partai politik mainstream kita mengklaim dirinya "Berideologi Nasionalis" namun justru kebijakan, gagasan, ide, dan aksi nasionalis nyaris tidak kita temukan di Bumi Pertiwi. Apa gerangan yang terjadi dengan kaum nasionalis ?

Nasionalisme kita kini tengah berada di ujung tanduk. Asumsi ini, bukan hanya didasari oleh kecenderungan warga Indonesia yang makin tak nyaman tinggal di negerinya sendiri (kasus 42 warga Papua di Australia). Bukan pula karena gelombang serangan modal asing yang gencar mengeksploitasi resources kita (kontroversi pengelolaan blok Cepu dan operasi Freeport di Papua).

Nasionalisme kita dalam marabahaya justru ketika gerakan nasionalis dan mereka yang mengklaim dirinya kaum nasionalis makin kehilangan amunisi perjuangan menghadapi terjangan neoliberalisme. Padahal setelah fundamentalisme dan terorisme gagal dan dicemooh, resistensi terhadap neoliberalisme kini berada di pundak gerakan nasionalis. Namun justru di sanalah ironi itu terjadi.

Defisit Nasionalisme

Fenomena gerakan nasionalis yang "sakit gigi" dan mengalami disorientasi bisa dijelaskan dengan beberapa argumen berikut :

Pertama, kita sedang mengalami defisit nasionalisme. Manifesto nasionalisme yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 dan Pancasila memang masih tetap diakui dan dipertahankan. Masih tetap diajarkan, dihapal, dan kadang dibacakan dalam upacara-upacara di sekolah. Namun implementasi terhadap keadilan sosial, perlindungan rakyat, pencerdasan bangsa, dan memajukan kesejahteraan umum, tetap tepuruk. Angka kemiskinan masih tetap tinggi, akses terhadap pendidikan masih buruk, dan isu mayoritas-minoritas, pusat dan lokal, masih tetap menjadi masalah rawan. Kebijakan publik yang dilahirkan pemerintahan juga belum pro rakyat.

Maraknya gelombang penolakan rakyat terhadap berbagai RUU mengindikasikan hal tersebut. Selain defisit dalam implementasi, nasionalisme juga mengalami defisit dalam wacana. Publik hanya disuguhi dengan berbagi slogan; "NKRI final","Merah Putih Harga Mati", dan berbagai slogan usang yang bertujuan untuk menciptakan nasionalisme fanatik. Sebaliknya, aksi konkret untuk membentuk warga yang memiliki nasionalisme "radikal" nyaris tidak terlihat. Padahal, untuk menjadikan nasionalisme sebagai alat resistensi, yang perlu dibangun adalah nasionalisme "radikal", bukan nasionalisme fanatik.

Kedua, berbagai gerakan "berideologi" nasionalis, baik itu parpol maupun ormas, masih belum sembuh dari penyakit klasik, "kepala batu". Penyakit ini mengakibatkan mereka cenderung mementingkan dirinya sendiri, dan mudah terfragmentasi daripada terkoordinasi dan terkonsolidasi.Kondisi demikian membuat gerakan bernapas nasionalis kehabisan energi hanya karena urusan "lokal" alias internal daripada membangun koalisi nasional(is) sebagai simpul perjuangan bersama. Mereka asyik berkutat dalam dikotomi dan pengelompokan kaum nasionalis yang tidak (selalu) pokok. Gerakan nasionalis yang loyo dan ter-fragmentasi, setidaknya disebabkan dua hal :

Pertama, gerakan tersebut sangat tergantung kepada elite (kultus individu). Apalagi kemudian elite tersebut memiliki hubungan darah biru dengan tokoh nasionalis di masa lalu.

Kedua, kapasitas organisasi berbendera nasionalis masih sangat lemah untuk meng-organize, mengembangkan, dan menggalang nasionalisme sebagai gagasan perlawanan terhadap terjangan neoliberalisme. Gerakan dan kaum nasionalis nyaris tidak pernah leading dalam wacana dan aksi yang berkaitan dengan kepentingan rakyat. Sebaliknya, gerakan tersebut acap menjadikan nasionalisme sebagai alat politisasi kepentingan politiknya.

Ketiga, elite dan tokoh nasionalis kita berada pada posisi mengambang dan tidak percaya diri.

Gerakan Nasionalis akan memiliki signifikansi bila ia tidak hanya memperjuangkan persatuan dan kesatuan, tetapi yang lebih penting lagi memperjuangkan keadilan sosial, perlindungan rakyat, pencerdasan bangsa, dan memajukan kesejahteraan umum. Gerakan nasionalisme baru harus lebih peka dengan amanat penderitaan rakyat (Ampera), mampu berdialog, dinamis, rasional, dan mau berkorban.

Gerakan Nasionalis yang berpijak kepada irasionalitas, dan dibangun dengan pola monolog dan otoriter sudah tak relevan lagi. Ia bisa menjadi fasis. Hitler menjadi contoh buram dari upaya membangun nation yang irasional. Di lain pihak gerakan nasionalis yang amat kompromis (dengan kekuatan asing) juga bisa berakhir tragis.

Gerakan Nasionalisme baru membutuhkan reinterpretasi baru. Sebuah gerakan yang mampu menebar solidaritas dan heroisme Indonesia bagi warganya. Sebuah gerakan yang mampu menerjemahkan gagasan nasionalis ke dalam kebijakan publik. Sebuah gerakan yang mampu memproteksi rakyat yang luka karena kemiskinan.

Reinterprestasi Ideologi 

Walau tak persis sama dengan kondisi Indonesia, tak salah sejenak kita mengalihkan pandangan terhadap apa yang terjadi di China dan Amerika Latin.

Siapa yang menyangka China dapat melakukan dua hal sekaligus; bersaing ekonomi secara gagah perkasa dengan negara-negara kapitalis, dan di sisi lain, menjaga kedaulatan negaranya dengan sangat mulus? Siapa yang menyangka negara kecil seperti Venezuela dan Bolivia mampu menohok Amerika Serikat ?

Padahal sejak awal hal itu dipandang muskil. Itu terjadi karena China dan Amerika Latin secara luar biasa mampu melakukan reinterpretasi terhadap ideologi yang mereka yakini. Itu terjadi karena di sana ada pemimpin seperti Chavez dan Morales yang mau berkorban, menantang dan berkata tidak kepada sang adikuasa.

Tanpa harus mengadopsi kapitalisme bulat-bulat China mampu memoderasi pola kapitalisme untuk kepentingan rakyatnya. Tanpa takut risikodi-marginalisasi, negara kecil di Amerika Latin sanggup menggalang kekuatan sosialis dan nasionalis melawan kekuatan asing. Itu terjadi karena ada keteladanan, pengorbanan, dan kepercayaan. Kini mereka bisa berdiri tegap bersaing dengan kekuatan neoliberalisme.

Hal yang sama sejatinya bisa kita lakukan di Indonesia bila memang para pemimpin dan kaum nasionalis kita makin cerdas, kreatif, inovatif, dan mau bersatu. Sayangnya, gerakan nasionalis kita kini lebih asyik ber-romantisme daripada membangun optimisme. Lebih senang beretorika daripada bekerja dan berkarya.

Berita Lainnya: