Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Kisah Percintaan Bung Karno dan Inggit Difilmkan

Kisah cinta Soekarno muda dengan Inggit Ganarsih akan diangkat ke layar lebar. Film berjudul Inggit itu digarap sebagai roman sejarah yang bernuansa romatis menjelang kemerdekaan Indonesia. Inti cerita bertumpu pada sosok istri kedua Bung Karno tersebut.Menurut produser Putut Widjanarko dari Mizan Productions, film itu ingin mengangkat sosok Inggit Garnasih yang kurang dikenal peran besarnya selama mendampingi Soekarno. Pengambilan gambar baru akan dilakukan pada Juli tahun depan, dan film akan ditayangkan pada 2012.

Ini karya besar, butuh keakuratan,” ujarnya kepada wartawan di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Senin kemarin.Gagasan pembuatan film Inggit berasal dari sodoran naskah yang ditulis Benni Setiawan dan Rikrik El Saptaria. Isi naskah non-fiksinya itu berasal dari buku-buku, keterangan ahli sejarah, dan hasil wawancara mereka dengan Ratna Djuami, anak Inggit, serta Tito Asmarahadi, cucu Inggit, sejak 2006. Benni mengaku sangat terobsesi untuk mengangkat sosok Inggit ke film.

Kenapa wanita setegar ini kurang dikenal,” kata Benni yang juga menjadi sutradara.Ia memilih artis Maudy Koesnaedi sebagai pemeran Inggit. Adapun pemain Soekarno muda, saat ini masih dicari, begitu pula lokasi pengambilan gambar. Menurut Benni, setting film terbatas pada kehidupan Inggit dan Soekarno serta gejolak politik saat berada di Bandung, Jawa Barat. “Tidak ada adegan peperangan,” katanya.

Cerita perjalanan hidup Inggit bersama Soekarno itu terentang sejak 1921 hingga 1942. Film diawali oleh kedatangan Soekarno dari Surabaya ke Bandung untuk kuliah di kampus yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung. Di tempat kosnya, Soekarno muda yang telah menikah dengan Utari, anak H.O.S. Tjokroaminoto, jatuh cinta kepada Inggit Garnasih yang ketika itu masih menjadi istri Sanusi. Namun akhirnya Soekarno bisa menikahi perempuan yang usianya 12 tahun lebih tua itu pada 24 Maret 1923.

Kisah kemudian bergulir ke romantika cinta keduanya di tengah masa perjuangan. Kesabaran dan keteguhan sosok Inggit diuji ketika Engkus, panggilan sayangnya kepada Bung Karno, ditahan di penjara Sukamiskin, Bandung, hingga dibuang ke Bengkulu dan Ende. Inggit dan anaknya ikut mengiringi masa pahit itu. Hingga akhirnya mereka bercerai, Inggit kembali berdagang bedak, meramu jamu, dan menjahit untuk mencari nafkah. Film diakhiri adegan pertemuan Bung Karno dengan Ibu Fatmawati hingga pembacaan naskah Proklamasi.

Lokasi pengambilan gambar bakal tersebar di Bandung, Bengkulu, Ende, dan kota lain untuk menggantikan beberapa tempat di Bandung yang telah banyak berubah. Menurut Rikrik, film berdurasi sekitar dua jam itu membutuhkan biaya sekiatr Rp 10 miliar.

Berita Lainnya :  
Kisah Paling Sedih Di Dunia
Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Modus Penipuan Baru Mencari Istri
Pentingnya Kasih Sayang Seorang Ayah
Kasus KDRT Paling Banyak Dilakukan PNS