Taman Aspirasi Tumaritis

Taman Aspirasi Tumaritis

Calon Walikota Depok 2016-2021 Jalur Independen

Calon Walikota Depok 2016-2021 Jalur Independen

Bencana Kekeringan di Kota Depok

Bencana Kekeringan
Siang itu di sepanjang jalan margonda raya terlihat sangat sepi dan lengang, udara panas begitu menyengat apalagi tak ada satu pun pepohonan yang tumbuh di sana. Suasana terasa begitu gersang bagaikan padang tandus, banyak dipinggir jalan berserakan daun-daun kering yang gugur dari pepohonan yang sudah tidak subur lagi.

Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki yang sudah amat tua dan renta, ia adalah seorang kakek berumur 84 tahun yang terlihat sedang mengayuh sepeda tuanya. Kanta nama Kakek tersebut mengayuh sepeda tuanya dengan sangat pelan !! Kanta terus mengayuh sepeda tuanya tanpa kenal lelah, sudah hampir setengah jam kanta mengayuh sepeda tuanya menyusuri jalan margonda raya, sebuah jalan besar dan lebar kebanggaan masyarakat Kota Depok.

Udara panas begitu menyengat. tak henti-henti kanta selalu menyeka peluh yang mengalir dari pori-pori keningnya. Ditambah teriknya sinar matahari yang makin terasa pedih membakar kulit lengannya yang kurus dan hitam.

Tak lama kemudian, kanta menghentikan laju sepeda tuanya untuk beristirahat sejenak tepat di depan kantor Balaikota Depok yang terlihat sepi dan sunyi tanpa adanya aktifitas. Dari kejauhan terlihat Masjid Baitul Kamal yang masih berdiri kokoh disamping kiri halaman gedung balaikota depok.

Masjid Baitul Kamal adalah Masjid yang dibangun di zaman pemerintahan Badrul Kamal Walikota Depok pertama. Masjid ini sempat berganti nama menjadi Masjid Agung di era Pemerintahan Nur Mahmudi Ismail. Namun setelah Nur Mahmudi Ismail lengser sebagai Walikota Depok pada tahun 2016 dan digantikan oleh Nursi Arsyirawati Walikota wanita pertama di Kota Depok. Masjid Agung akhirnya dikembalikan lagi namanya menjadi Masjid Baitul Kamal.

Di era pemerintahan Nursi Arsyirawati pada tahun 2018, kanta baru berusia 10 tahun, Kanta banyak mendengar cerita dari orangtuanya bahwa di masa itu Kota Depok berkembang pesat, berkembang di semua sektor hingga berdampak baik bagi kemajuan ekonomi masyarakat Kota Depok. Di era Walikota Nursi Arsyirawati, banyak dibangun ruang terbuka hijau, Dibangun balai latihan kerja, Dibangun gelanggang remaja dan Taman Kota.

Saat sedang asyik beristirahat, tatapan mata kanta juga melihat di halaman Balaikota Depok, tepatnya dilapangan terbuka yang sering dijadikan tempat upacara bendera, telah penuh dengan berbagai macam sampah yang berserakan. beberapa pohon terlihat rapuh dan mengering. Gersang tanpa sehelai daun pun. Banyak sampah plastik, kaleng bekas bercampur sisa daun dan ranting kering berserakan hampir di seluruh jalan menuju halaman gedung Balikota Depok.

Setelah lama beristirahat, kembali Kanta mengayuh sepeda tuanya menuju kearah jalan Citayam, tepat di pertigaan lampu merah, Kanta berhenti sebentar, tak lepas matanya memandang sebuah taman kecil di pertigaan lampu merah margonda-siliwangi. Taman kecil tersebut memang sudah tidak terawat, pohon dan rumput sudah tidak ada lagi, taman terlihat seperti padang tandus layaknya. Tak lama kemudian kanta mengayuh sepeda tuanya menuju arah jalan citayam, untuk kembali pulang kerumahnya di ratu jaya.

Jalan raya terlihat lengang dan sepi, Tak satu pun kendaraan yang lewat. Sesampainya dipertigaan jalan margonda dan jalan kartini, Kanta kembali berhenti sebentar, Tepat dibawah jalan Layang Fly Over Dewi Sartika dan Siliwangi, Kanta teringat kembali cerita orangtuanya, Dulu tahun 2016 di jalan dewi sartika kondisi lalu lintasnya sangat macet karena lalu lalang kendaraan terhalang oleh pintu perlintasan kereta api.

Saat itu kondisi jalan Dewi Sartika sangat memprihatinkan terutama bila dilihat dari sisi kemacetan lalu lintas. Apalagi ruas jalan tersebut dilalui oleh rel kereta api double track yang melintas setiap 5-10 menit sekali. Akibat kemacetan itulah yang melatarbelakangi Pemerintah Kota Depok dibawah pimpinan Walikota Nursi Arsyirawati membangun jembatan layang yang membentang antara jalan Dewi Sartika dan Jalan Siliwangi

Tak lama kemudian, Kanta kembali mengayuh sepeda tuanya. Setengah jam kemudian, tiba-tiba Kanta menghentikan laju sepeda tuanya tepat di sebuah rumah sederhana yang tak berdaun jendela. Masih nampak di halaman beberapa pohon tua yang sudah terlihat rapuh dan mengering. Gersang tanpa sehelai daun pun. Banyak sampah plastik, kaleng bekas bercampur sisa daun dan ranting kering berserakan hampir di seluruh halaman rumah tersebut, bahkan selokan kecil di pinggir jalan itu juga telah penuh dengan berbagai macam sampah yang berserakan menyatu dengan halaman, bahkan dengan rumah itu.

Kanta memandang rumah yang telah menorehkan begitu banyak kenangan indah dalam kehidupannya, Di rumah inilah Kanta pernah tinggal dan di rumah ini, lima puluh lima tahun yang lalu, Kanta pernah mengenal seseorang, Erna namanya. Seorang gadis yang akhirnya telah mengisi hidupnya hampir 55 tahun lamanya. Masih terngiang kata-kata Erna sebelum bencana kekeringan melanda Kota Depok dan hampir seluruh kabupaten dan kota di Pulau Jawa ini.

Papa, semua tetangga kita dan orang-orang di kota ini sudah pada pergi mengungsi semua, kata Erna sambil berurai air mata. Tak lepas tangannya memegang tangan suaminya, Erna terus mendesak dan meminta untuk yang kesekian kalinya pada Kanta suaminya agar mereka berdua juga pergi mengungsi.

Rombongan terakhir yang belum mengungsi hanya tinggal kita berdua dan keluarga Pak Walikota dan Wakil Wakil Walikota. Mama mohon dengan sangat kepada Papa agar kita segera pergi meninggalkan kota ini.

Dengan nada keras Kanta berkata ! Sudahlah Mama, kan papa sudah bilang berkali-kali bahwa papa tidak akan meninggalkan Kota Depok. Papa dan Mama lahir di sini, besar pun disini. Apalagi, dulu orangtua papa adalah mantan tim sukses Nursi Arsyirawati, begitu juga orangtua Mama !! Papa ingin mati di sini dan tidak akan meninggalkan Kota ini.

Mendengar jawaban suaminya yang tetap bersikeras untuk tidak meninggalkan Kota Depok, Erna menangis semakin keras, hatinya begitu berat meninggalkan suami yang sangat dicintainya, sambil mengusap air matanya, Erna masih berupaya untuk meyakinkan Kanta, suaminya. Nanti siapa yang akan mengurus Papa ? Sudah tidak ada lagi orang lain yang mau tinggal di sini.

Jangan bersedih istriku, biarlah takdir yang menjawab, sisa umur Papa juga sudah tak lama lagi. Sekarang saja umur Papa sudah 84 tahun, sudah waktunya sepertinya, kata Kanta datar.

Namun hatinya tak dapat dibohongi, tak terasa, air mata Kanta mulai merambat turun perlahan menyentuh pipinya. Terasa dingin. Sedingin tekadnya untuk tidak hengkang dari tanah ini, tanah kelahirannya. Pandangannya sedikit kabur. Oh kenangan itu. Setetes air mata membangunkan dari lamunannya.

Kanta segera menyeka pipi dengan tangan keriputnya. Semua yang di depannya kembali jelas. Dialihkan pandangannya menuju seberang jalan. Tak jauh berbeda. Nampak rumah-rumah kosong tak berpenghuni berpadu dengan serakan sampah !

Di sebuah bangunan besar dan megah yang berada seberang di jalan, Pagi baru saja menampakkan garis cakrawala. Di ufuk timur terlihat sinar matahari menyambut datangnya pagi hari yang masih dipenuhi oleh langit kelabu tanpa tetesan embun pagi. Sudah lebih dari 20 tahun lamanya, Kanta menyambut pagi tanpa ada suara kokok ayam maupun kicauan burung. seperti saat-saat dulu. Saat sebelum Pulau Jawa kehabisan sumber daya air, Saat sebelum alam marah karena ulah manusia-manusia serakah, Saat pemimpin sudah tidak amanah lagi pada rakyat, Sehingga mengakibatkan bencana alam atau bencana kekeringan yang melanda Kota Depok dan bencana kekeringan yang melanda hampir di seluruh Kabupaten dan Kota di Pulau Jawa.

Setelah menunaikan sholat dhuha berdua dengan istrinya di Masjid samping rumahnya, Tak lama kemudian Kanta melangkah keluar Masjid dan menuju sebuah tembok warna putih dipinggir jalan yang penuh dengan coretan-coretan di sana sini. Diraihnya spidol hitam yang terikat dengan benang warna putih kusam dan dengan tangan agak gemetar, Kanta menuliskan sesuatu di dinding tersebut, menuliskan sebuah puisi dengan kata-kata :

YA ALLAH
Dosa apa yang telah kami lakukan
Apakah ini kesalahan para pemimpin kami yang tidak amanah
Sehingga kau hukum kami dengan segala kepahitan hidup

YA ALLAH
Di usiaku yang sudah 84 tahun ini
Sudah tidak ada lagi impian yang bermimpi
Sudah tidak ada lagi cinta dalam jemari

Ketika kematian telah bercampur
Dalam nafas yang berhembus
Dibalik hitamnya hati meringis

Kota Depok, 4 Okrober 2092

Tertanda

Kanta dan Erna

Berita Lainnya :
 
Template Modify by
Creating Website

Proudly powered by
Blogger