Polling Bakal Calon Walikota Depok Periode 2016-2021

Polling Bakal Calon Walikota Depok Periode 2016-2021

Pengalaman Bertikai Dengan Pendukung Fretilin di Timor Timur

Pasar Komoro Kota Dili Timor Timur

Pada bulan Oktober 1989, Indonesia kedatangan tamu terhormat yakni Paus Johanes Paulus II. Di Indonesia, Paus Johanes Paulus II mengawali kunjungan bersejarahnya dengan mendarat dilapangan terbang Halim Perdanakusuma Jakarta. Bukan hanya Jakarta saja yang dikunjungi oleh Paus Johanes Paulus II, Beberapa daerah di Indonesia juga dikunjunginya, termasuk kunjungan yang di tunggu-tunggu oleh banyak pihak yakni kunjungan Paus Johanes Paulus II di Bumi Lorosae Timor Timur (Timtim).

Sebagaimana kita ketahui bahwa status Timor Timur di dunia internasional pada tahun 1989 belum jelas. Secara de facto, Timtim diklaim sebagai provinsi ke-27 Indonesia karena 'berintegrasi' pada 1976. Namun, di sisi lain Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dunia internasional tidak mengakuinya. Vatikan sendiri pun masih menganggap Timtim sebagai wilayah yang belum punya pemerintahan sendiri.

Saat itu beberapa negara yang menjadi musuh Indonesia dalam kasus Timor Timur, seperti Portugal, terang-terangan menuduh Pemerintah Indonesia memakai kunjungan Paus ini untuk mencari simpati. Kunjungan Paus ke Dili dituduhkan sebagai upaya mempengaruhi Paus agar berpihak ke Indonesia dalam kasus Timor Timur. Sehingga banyak pengamat mengatakan bahwa kunjungan Paus di Timtim sudah dianggap kemenangan politis bagi Indonesia di mata dunia internasional. Walaupun awalnya sempat memanas karena berhubungan dengan kasak kusuk yang beredar saat itu, apakah kedatangan Paus di Bumi Lorosae itu akan mencium tanah atau tidak. Apalagi waktu itu Pemerintah Republik Indonesia secara politis berkepentingan agar kunjungan Sri Paus ini untuk mengakui status Timtim sebagai bagian dari NKRI.

Saat itu Paus ternyata tidak terjebak dalam permainan politik semacam itu. Dengan cerdik, Vatikan menyebut kunjungan ini hanyalah kunjungan pastoral biasa. Dan memang, dalam misa di Dilli, Sri Paus bersikap netral. Tak ada pernyataan politik yang bersifat pro atau kontra tentang kemerdekaan Timor Timur. Sri Paus hanya meminta agar semua pihak menghormati hak-hak asasi manusia, menghormati kehidupan, memajukan keadilan dan perdamaian. Isi khotbah normatif yang juga sering disampaikan di tempat-tempat lain di dunia. Hal itu pun dibuktikan, Bahwa Paus ternyata tidak mencium tanah saat mendarat di bandar udara Komoro, Kalau sampai Paus mencium tanah di Timtim, berarti Paus mengakui Timtim sebagai sebuah Negara. Kondisi pada waktu itulah yang menjadi kekhawatiran besar Pemerintah dan para pejabat kita. 

Kedatangan Paus Johanes Paulus II bukan hanya menjadi sejarah bagi Indonesia tetapi menjadi sejarah dalam kehidupan saya secara pribadi. Saat kedatangan Paus di bumi lorosae Timor Timur, Saat itu usia saya baru 22 tahun dan menetap di Kota Dili, Timtim. Saat itu Kota Dili menjadi persinggahan terakhirku tinggal di Timor Timur, setelah sebelumnya sempat loncat sana, loncat sini hampir di seluruh kabupaten di Timor Timur. 

Kondisi Timtim pada waktu itu memang sangat mencekam terutama di Kota Dili. Suasana mencekam itu diakibatkan oleh ulah para pemberontak Fretilin yang sudah masuk ke jantung Kota Dili, Gaya perang kota sepertinya memang sedang diterapkan oleh para pendukung Fretilin itu. Pada waktu itu, hampir setiap hari ada saja berita tentang kematian. Harap maklum karena pada waktu itu banyak mata-mata Fretilin berkeliaran di Kota Dili. 

Misalkan seperti apa yang sering saya lihat dalam setiap kejadian tragis di pasar Komoro Kota Dili. Pada waktu itu, saya memang bekerja sebagai satu-satunya petugas parkir di Pasar Komoro, Saat itu di usia yang masih tergolong remaja, tanpa skill dan modal hingga hanya jadi petugas parkirlah yang bisa saya kerjakan. Toh, butuh mental yang kuat untuk menjadi petugas parkir di Pasar Komoro, salah bertindak, niscaya, nyawa pun bisa melayang. 

Suasana pasar Komoro memang tidak seperti pasar-pasar lain yang ada di Indonesia. Pasar hanya ramai pada pagi hari, menjelang siang hari suasana pasara pun mulai terlihat sepi dan lengang. Namun suasana sepi ini akan berubah menjadi tontonan yang mengerikan bila ada sebuah kejadian yang memang sengaja diciptakan oleh para pendukung setia Gerilyawan Fretilin. Misalkan, bila ada keributan, semua penghuni pasar akan mendatangi tempat keributan itu, Bila yang ribut adalah orang Timtim dengan orang Timtim, maka mereka akan balik lagi kembali melangkah menuju dagangannya. Namun bila yang ribut adalah orang Timtim dengan para pendatang, so pasti sudah bisa ditebak, pendatang itu akan dihabisi bahkan bila tidak segera datang pertolongan, nyawa pun tidak bisa diselamatkan. Pertolongan itu biasanya datang dari Patroli Garnizun yang memang setiap beberapa jam sekali selalu datang mengontrol di Pasar Komoro.

Melihat kondisi seperti itu, sebagai petugas parkir di Pasar Komoro, tentunya perlu ekstra waspada. Untungnya, saya selalu berpijak pada ungkapan bijak. Dimana Bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Saya mencoba bergaul dan bersikap ramah dengan siapa saja, baik dengan yang pro kemerdekaan Timtim maupun dengan pendukung pro integrasi yang juga banyak berkeliaran di Pasar Komoro. Konon kabar yang terdengar waktu itu, bahwa pemimpin Fretilin Xaxana Gusmao walaupun berada di tempat yang jauh tapi mampu mendengar setiap komunikasi yang ada di masyarakat. Mitos ini terkesan berbau mistis tapi ternyata tidak. Karena yang dimaksud dengan mampu mendengar setiap komunikasi di masyarakat adalah karena banyaknya mata-mata Fretilin yang berkeliaran di Kota Dili dan mampu memberikan segala macam informasi pada pemimpinnya. Walaupun Xaxana Gusmao telah keluar dari Fretilin pada tahun 1987 dan membentuk Dewan Pertahanan Masyarakat Maubere (CNRM), Namun pengaruh dan sosok Xaxana Gusmao tak pernah lepas dari bayang-bayang Fretilin.

Dalam aktifitas sehari-hari, bukan hanya sekedar menjadi petugas parkir di pasar Komoro, saya pun sering berdiskusi dengan orang-orang Tmtim yang sudah saya anggap sebagai sahabat dan saudara se-tanah air. Disana lah terkadang saya menjadi guru bagi rakyat Timor Timur yang ingin memahami apa itu Indonesia yang sebenarnya. Guru dalam hal ini adalah memberikan pemahaman terhadap mereka terutama jiwa nasionalisme yang harus dibangun agar mereka paham bahwa mereka adalah bagian dari anak bangsa, Negeri yang besar yakni Indonesia Raya.

Mereka banyak bertanya tentang apa itu Indonesia. Pernah saya menjelaskan kepada mereka bahwa anda bisa pergi kemana pun anda suka di seluruh tanah Air Indonesia, sama seperti saya yang juga bisa pergi ke Bumi Lorosae Timor Timur, lebih dari itu, anda pun bisa menjadi pemimpin Indonesia sepanjang punya kemampuan untuk itu, anda bisa menjadi Presiden, Gubernur, Bupati maupun Walikota di Indonesia. Karena anda adalah bagian dari anak bangsa Indonesia.

Tak lama pasca kedatangan Paus Johanes Paulus II di Timtim, serta mengingat situasi di Kota Dili yang semakin mencekam, Saya berniat ingin meninggalkan Timor Timur dan berniat pergi ke Tana Toraja Sulawesi Selatan. Bumi Lorosae memang telah memberikan pengalaman berharga dalam perjalanan hidup saya. Walaupun terdampar di Timor Timur bukanlah sebuah keinginan, tapi semua itu terjadi dari rentetan perjalanan panjang seorang anak manusia yang ingin mencoba mengadu nasib di negeri orang yakni Negeri Australia.

Satu hari sebelum meninggalkan Bumi Lorosae, malamnya saya mengajak teman-teman untuk merayakan malam perpisahan. Suasana malam itu begitu riang gembira, kita saling mengobrol dan sesekali kita saling bersenda gurau !! Entah kenapa malam itu, ketika kami sedang berdiskusi tentang Negeri Indonesia, Tiba-tiba, ada seseorang yang bicara dengan keras dan tetap ngotot mengatakan bahwa Indonesia adalah penjajah, saya dan teman-teman lain sempat kaget dengan perkataan itu ?

Suasana pun menjadi panas, suasana riang gembira itu mendadak menjadi gaduh, Namun berkat bantuan teman-teman pro integrasi, akhirnya pertikaian di malam perpisahan itu dapat didamaikan, tak lama kemudian, selidik punya selidik ternyata, orang yang membuat gaduh itu adalah pendukung setia Gerilyawan Fretilin !! Namun untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, akhirnya saya diajak mengungsi pindah tempat tinggal, Khawatir, pendukung setia Gerilyawan Fretilin itu akan datang lagi dengan pasukannya.

Ada perasaan haru dan rasa simpatik yang mendalam bila mengenang peristiwa itu, ternyata dibalik konflik yang terjadi di Timor Timur, masih ada orang-orang pro integrasi yang tidak ingin saya menjadi korban. Malam perpisahan itu memang begitu mencekam, setelah pindah tempat tinggal, saya dijaga semalaman oleh teman-teman yang baik hati itu, bahkan keesokan harinya, saya pun diantar ramai-ramai menuju pelabuhan Dili untuk mengantar dan mengawal kepergiaan saya meninggalkan Bumi Lorosae Timor Timur menuju Sulawesi Selatan. Teman-teman saya ini begitu baik, mereka tidak mau ada kejadian yang tidak diinginkan, Karena itu mengapa saya dikawal menuju pelabuhan yang tidak begitu jauh dari Pasar Komoro.

Saat ini, 26 tahun telah berlalu. Teriing ucapan terima kasih para sahabat, enta dimana kini para sahabatku. Walaupun Timor Timur telah berpisah dengan Indonesia, Tapi persahabatan kita tidak bisa dipisahkan oleh waktu dan jarak. Salam rindu untuk para sahabat di Bumi Lorosae Timor Timur.

Cerita Diatas adalah rangkaian kisah nyata bersambung dibawah ini :