Doa Anak Tumaritis

Doa Anak Tumaritis

Sekolah Negeri Filial dan Peran Guru PNS di Kota Depok

Semboyan Guru lapar mereka tidak bisa mengajar menjadi catatan sejarah yang tidak bisa dilupakan dalam perjalanan kelam sejarah bangsa Indonesia. Ungkapan Guru lapar mereka tidak bisa mengajar menjadi cermin perjuangan para Guru, bahwa Guru juga manusia, Guru juga butuh kehidupan yang layak bagi keluarganya.

Semboyan itu memang telah lama berlalu. Hingga seiring perjalanan waktu, Seiring dinamika pembangunan bangsa, Kini kesejahteraan Guru mulai mendapat perhatian dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Salah satunya adalah dengan adanya Tunjangan Profesi Guru yang didapatkan melalui Sertifikasi Guru. 

Bahkan Guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) mempunyai keistimewaan lain dibandingkan dengan Pegawai Negeri Sipil lainnya, yakni jenjang kepangkatan Guru PNS lebih cepat dibandingkan dengan jenjang kepangkatan Pegawai Negeri Sipil di instansi lain. Bahkan lebih dari itu ternyata Guru PNS masih mendapatkan tunjangan lain yang diberikan oleh Pemerintah Daerah yang nilainya disesuaikan dengan tingkat pendapatan asli daerah.

Kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah bagi kesejahteraan Guru memang belum optimal, terutama nasib Guru Honorer yang juga butuh perhatian Pemerintah. Kondisi nasib Guru Honorer hampir merata terjadi di seluruh daerah di Indonesia ? Kedepannya ada sebuah harapan bahwa rekrutmen penerimaan Pegawai Negeri Sipil di lingkup Pemerintah Daerah lebih mengedepankan nasib Guru Honorer yang memang sudah teruji pengabdiannya.

Dalam konteks kesejahteraan Guru dengan berbagai tunjangan yang didapat. Sudahkah tunjangan ini selaras dengan pengabdiannya sebagai Abdi Negara. Mengingat Guru PNS adalah Abdi Negara sama seperti Pegawai Negeri Sipil lain yang juga sebagai Abdi Negara.

Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada pasal 35 ayat (2) menjelaskan bahwa Beban Kerja Guru mengajar minimal 24 jam dan maksimal 40 jam tatap muka perminggu. Amanat Undang-Undang ini seharusnya dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya apabila ada sebuah kebijakan daerah yang butuh peran serta Guru untuk merealisasikannya. Faktanya, banyak Guru berpikiran buat apa kerja sampai 40 jam bila tunjangan yang didapat sama dengan kerja 24 jam ? Pemikiran seperti inilah yang harus dirubah, Guru PNS adalah Abdi Negara sama seperti Abdi Negara lain yang bekerja melayani masyarakat selama 40 jam dalam seminggu.

Dalam Konteks Beban Kerja Guru, Saat ini Dinas Pendidikan Kota Depok telah mengeluarkan kebijakan baru dengan mendirikan Sekolah Negeri Filial. Terobosan baru ini setidaknya dapat mengatasi kekurangan Sekolah Negeri. Apalagi saat ini jumlah SMP Negeri dan SMA Negeri di Kota Depok memang masih sangat kurang yakni hanya 23 SMP Negeri dan 13 SMA Negeri.

Mengingat laju pertumbuhan penduduk di Kota Depok dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kini Pemerintah Kota Depok memang sedang berupaya membangun beberapa SMP Negeri dan SMA Negeri bahkan beberapa Sekolah Filial itu nantinya jadi cikal bakal Sekolah Negeri. Karena itu sebutan Sekolah Negeri Filial sebagai Sekolah Buangan adalah salah besar. Kebijakan Disdik Kota Depok ini sangat rasional mengingat daya tampung yang ada ternyata tidak berbanding lurus dengan jumlah siswa yang ingin masuk Sekolah Negeri.

Keberadaan Sekolah Negeri Filial tentunya harus didukung oleh semua pihak khususnya peran serta Guru PNS yang akan mendapat tugas mengajar di Sekolah Negeri Filial. Dan keberadaan Sekolah Negeri Filial setidaknya dapat menggugah kesadaran Guru PNS di lingkup Dinas Pendidikan Kota Depok bahwa pengabdian yang tulus tentunya tak kenal batas dan waktu. Karena itu, jangan jadikan kelebihan jam mengajar ini sebagai beban walaupun amanat Undang-Undang sudah mengatur bahwa Beban Kerja Guru minimal 24 jam dan maksimal 40 jam tatap muka perminggu.

Kembali pada ungkapan lama, Bahwa jika Guru lapar mereka tidak bisa mengajar. Kini Guru PNS di Kota Depok sudah tidak lapar lagi. Dan kita berharap bahwa dedikasi Guru untuk pengabdian yang tulus masih tetap melekat sebagaimana predikat pahlawan tanpa tanda jasa yang masih melekat di hati insan para Guru. Dan patut menjadi catatan bahwa Guru adalah garda terdepan bagi kecerdasan anak-anak bangsa.