Kota Depok Rumah Singgah Kelompok Teroris

Rumah Singgah Teroris
Masyarakat Kota Depok kembali dikejutkan dengan sebuah ledakan yang cukup keras dan patut diduga sebagai sebuah bom. Ledakan terjadi di kawasan pusat perdagangan di jalan margonda raya atau tepatnya di ITC Depok. Periritiwa itu terjadi pada pukul 17.40 dan ledakan itu membuat gedung ITC bergetar, lampu mati dan ratusan pengunjung termasuk karyawan dilokasi kejadian menjadi panik.

Ledakan itu diduga berasal dari sebuah kardus di toilet dalam ITC Depok. Kardus ini berisi benda mencurigakan yang terdiri benda berbentuk baterai dan rangkaian kabel. Tidak ada kerusakan akibat ledakan tersebut, kerugian jiwa juga tidak ada. Bom yang diduga sebagai bom rakitan itu memang tidak menimbulkan kerusakan dan kerugian jiwa akibat ledakan tersebut. Namun setidaknya peristiwa ini menjadi sebuah peringatan bahwa ternyata tindakan teror yang dilakukan oleh teroris sering terjadi di Kota Depok.

Mengapa peristiwa ledakan bom sering terjadi di Kota Depok, hal inilah yang perlu dicermati dan diwaspadai ? Ada indikasi, Kota Depok menjadi tempat favorit bagi kelompok teroris untuk bertempat tinggal sementara atau rumah singgah sebelum melakukan aksinya. Rumah singgah tersebut dalam bahasa intelijen dinamakan safe house. Beberapa catatan kasus ledakan di Kota Depok yang dilakukan oleh kelompok teroris pernah terjadi sejak tahun 2004.

Peristiwa pertama terjadi pada tahun 2004 yakni sembilan tersangka jaringan teroris Cimanggis Depok diadili dan divonis tujuh tahun penjara pada 2004. Sembilan orang ini merupakan murid dari Ustad Haji Oman Rochman alias Aman Abdurachman bin Ade Sudarma (32), yang juga sudah ditangkap dan dipenjara di LP Sukamiskin. Oman juga divonis Pengadilan Cibinong selama tujuh tahun penjara pada 2 Mei 2005. Oman dengan orang-orang pengajiannya melakukan latihan-latihan fisik dan mengadakan pelatihan merakit bom serta pelatihan bongkar pasang senjata api jenis FN.

Berikutnya peritiwa kedua yang terjadi pada Mei 2011, Densus 88 kembali menangkap tiga teroris jaringan Depok yang juga penyuplai senjata api ke beberapa kelompok teror. Saat itu ditemukan beberapa pucuk senjata api berbagai jenis pada kelompok Depok ini. Dalam operasi penyergapan, Densus 88 telah menangkap Mardiansyah, Zulkifli Lubis, dan Eko Ibrahim sebagai penyuplai senjata api dan amunisi kepada kelompok JAT Cirebon dan Hisbah pimpinan Sigit Qurdowi di Solo. Sigit tewas pada operasi penangkapan yang dilakukan Densus 88 bersama pengawalnya, Hendro Yunianto, pada bulan yang sama.

Selanjutnya pada tahun yang sama yakni pada bulan November 2011, kembali Densus 88 melakukan penyisiran di hutan Universitas Indonesia (UI) Kota Depok dan menemukan satu senjata laras panjang, dua senjata api jenis FN, dan 20 butir peluru. Pada November 2011, Densus juga melakukan penyisiran di hutan UI dan menemukan satu senjata laras panjang, dua senjata api jenis FN, dan 20 butir peluru. Penyisiran dilakukan di hutan UI yang berada di sebelah timur Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Ketika itu, pasukan antiteror tidak berhasil menemukan senjata dan amunisi. Pada penyisiran Kamis (9/2/2012) di hutan yang sama dan lokasi berbeda itulah, Densus menemukan senjata tersebut.

Penemuan senjata api di kawasan hutan alam Universitas Indonesia, Depok, terkait dengan kelompok Abu Omar. Polri menemukan menyusul penyerahan diri seorang yang masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) teroris di kawasan itu. Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, seorang DPO tersangka teroris berinisial M, Rabu (8/2), menyerahkan diri dan melaporkan mengenai penyimpanan senjata di kawasan hutan di daerah Depok.

Setelah ditelusuri dan dicek langsung oleh tim di lapangan, ternyata benar. Telah ditemukan satu pucuk senpi jenis Jungle dan FN,” kata dia di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (10/2). M, menurut Saud, adalah bagian dari kelompok Abu Omar, kelompok teroris spesialis penyelundupan senjata api untuk para teroris. M adalah orang yang memindahkan senjata-senjata dari lokasinya semula, sehingga polisi waktu itu tidak berhasil menemukan pencarian senjata di kawasan hutan Depok. Dari informasi di kepolisian, inisial M disebut-sebut sebagai Mulya, anggota jaringan kelompok Abu Omar. Senjata ditemukan di sekitar 200 meter dari Fakultas Teknik UI.

Pada hari Sabtu (12/11/2011) Densus 88 Mabes Polri menangkap tiga orang buron kasus terorisme dari jaringan Abu Omar di Tangerang, Banten. Ketiga yang ditangkap berinisial DAP (34) berstatus pekerja swasta asal Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, BH alias D (35) sebagai pekerja swasta, serta A (32) asal Karawaci, Tangerang. Sementara dalam aksi penangkapan itu, petugas terpaksa menembak kaki A karena terduga teroris tersebut membawa senjata api jenis M-16. Ketiganya dikenal sebagai bagian jaringan Depok. Dari hasil pemeriksaan, petugas mendapatkan pengakuan dari BH alias D yang pernah menerima dua pucuk senjata api jenis laras panjang dan pistol FN, beserta 20 butir peluru dari Abu Omar.

Siapakah Abu Omar ? Terungkap bahwa Abu Omar termasuk tokoh yang berpengaruh dan seorang pimpinan jaringan, dialah orang yang membaiat pelaku bom bunuh diri di Masjid Adz- Dzikra, Polres Cirebon, Muhammad Syarif Astanagarif, dan juga membaiat pelaku bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton Solo, atas nama Pino Damayanto alias Achmad Yosepa Hayat. Abu Omar merupakan eks napi bom Cimanggis dihukum juga karena menjadi tersangka kasus teror di Aceh.

Dari Abu Omar, Syarif dan Hayat mendapatkan doktrin yang antara lain pembenaran terhadap aksi perampokan untuk mendukung pendanaan kegiatan fai atau kejahatan untuk pembiayaan aksi teror, lalu penghancuran terhadap masjid-masjid yang mereka anggap dibangun oleh orang-orang yang tidak berdasar kepada hukum Allah. Lalu memerangi orang kafir yang tidak berhukum kepada Allah, termasuk Pemerintah RI dan aparatnya.

Sudahkah aksi teror berhenti ? Aksi itu ternyata tidak berhenti, Publik Depok tentu tidak lupa peristiwa lanjutan dari rangkaian aksi teror yang dilakukan oleh kelompok teroris. Aksi berikutnya terjadi pada tanggal 8/9/2012. Kembali warga Kota Depok dikejutkan dengan terjadinya sebuah ledakan yang cukup keras, Ledakan ini terjadi di Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara di jalan nusantara raya di kawasan perumahan depok utara.

Selain itu juga ditemukan satu alat peredam senjata, 50 butir peluru kaliber 9,9 mm, 30 butir peluru 2,2 mm buatan pindad, 5 buah baterai 9 volt,1 laptop, 1 telepon genggam, 6 switching dalam rangkaian, 6 buah paralon 1/4 inch sudah terisi peledak, bahan peledak jenis serbuk potassium, HP ledak, detonator elektrik, kabel serabut tunggal, dan surat wasiat.

Rentetan peristiwa teror yang terjadi di Kota Depok tentunya menjadi sebuah catatan bahwa Kota Depok memang layak disebut sebagai tempat tinggal sementara atau rumah singgah bagi kelompok teroris. Catatan itu semakin menjadi nyata ketika kembali terjadi ledakan di kawasan perdagangan ITC Depok. Sungguh ironis padahal beberapa hari sebelumnya, Walikota Depok mengatakan bahwa Depok adalah Kota paling aman di wilayah Jabodetabek ?

Peristiwa ledakan di ITC Depok, nampaknya memang harus diwaspadai oleh aparat keamanan, karena Depok adalah kota yang berbatasan dengan Jakarta sebagai Ibukota. Dan kita semua tentu berharap, pihak keamanan dalam waktu yang tidak lama lagi akan mampu menjawab, siapakah dalang peristiwa ledakan di ITC Depok serta target apa yang ingin dicapainya.


Berita Lainnya :